Selasa, 08 Mei 2018

MSI CAFE


Nama   : Wahyu Aji galih Muslim
Kelas   : PBS 2B
NIM    : 175231074

Feel the Atmosphere in Hikaru Dining at Hartono Mall
Berawal dari sebuah tugas mata kuliah MSI (Metodologi Studi Islam) yang di ampu oleh dosen bernama Bapak Endy Saputro. Kami para mahasiswa/mahasiswi kelas PBS 2B ditugasi untuk mengunjungi café atau resto yang ada di Solo dan Sukoharjo, pilih salah satu café atau resto. Sebetulnya bukan memilih, akan tetapi di undi, ada 16 gulungan kertas kecil yang didalamnya ada tulisan nama café atau resto yang ada di Sukoharjo dan Solo. Kelas kami yaitu PBS 2B dibagi menjadi 12 kelompok dan setiap kelompok beranggotakan 3 orang jadi jumlah semua mahasiswa/mahasiswi kelas PBS 2B yaitu 36 orang. Ketika undian, setiap kelompok maju kedepan untuk mengambil gulungan kertas tersebut dan kebetulan saya perwakilan dari kelompok saya untuk mengambil gulungan kertas tersebut. Kelompok saya terdiri dari saya, Tomi dan Faisal Kelompok saya dapat gulungan kertas yang didalamnya bertuliskan Hikaru Dining. Jadi, kelompok saya dapat tugasnya untuk berkunjung, mengamati dan merasakan  produk yang ada di Hikaru Dining serta meneliti kondisi dan suasana café tersebut bagaimana hubungannya dengan Islam.
Tepat tanggal 02 Mei 2018 sekitar jam dua belas siang, kami bertiga berangkat ke Hikaru Dining Hartono Mall yang ada di Kota Sukoharjo. Kami bertiga kesana naik motor, saya boncengan sama Faisal dan Tomi naik motor sendiri. Kami berangkat dari kampus dan itu setelah mata kuliah Akhlaq dan Tasawuf selesai. Perjalanan dari kampus ke Hikaru Dining hartono Mall sekitar setengah jam atau 30 menit. Waktu itu, kami berangkat jam dua belas siang dan suhunya sangat panas, apalagi jalanan cukup macet sehingga membuat saya merasa kurang nyaman di jalan. Akan tetapi, setelah sampai di Hartono Mall, suasana hati saya seketika itu langsung berubah dan saya sudah merasa cukup lega karena sudah melewati perjalanan yang kurang menyenangkan. Sebelum tiba di Hartono Mall, kami bertiga juga melewati beberapa gedung perusahaan yaitu Transmart, Grand Mall dan masih banyak lagi yang lainnya.
Setelah sampai di Hartono Mall, kami bertiga langsung menuju keparkiran yang ada di lantai bawah gedung hartono Mall. Motor sudah diparkirkan dan kemudian kami langsung menuju ke atas untuk mencari Hikaru Dining. Sebelumnya saya belum pernah ke café ini, maka dari itu kami bertiga mencari dulu. Akan tetapi, untuk mencari café Hikaru Dining tidaklah sulit karena tempatnya yang sangat strategis. Kami menemukan café tersebut di lantai dua. Setelah menemukan café tersebut, kami langsung masuk ke dalam café tersebut. Hikaru dining adalah café yang terkenal dengan makanannya yang berasal dari Asia terutama Jepang. Baru mendengar namanya saja kita sudah bisa tahu kalau Hikaru Dining adalah kata yang identic dengan Negara Jepang.
Setelah masuk, kami langsung duduk dan kemudian ada seorang pelayang cewek yang datang menghampiri kami dan memberikan daftar menu makanan dan minumannya. Setelah lama kami melihat daftar menu makannya, kami pun langsung memesan. Makanan yang saya pesan adalah chiken katsu bento dan soda root beer. Saya adalah seorang yang dari dulu sangat suka minum soda, jadi kemanapun saya pergi ke tempat yang terlihat mewah, kemungkinan minuman yang saya pesan adalah minuman yang mengandung soda. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pesanan kami sudah jadi dan siap untuk di makan. Kami pun menikmati hidangan sambil mengamati café tersebut, bagaimana suasananya dan semua yang ada di café tersebut bagaimana hubungannya dengan Islam.
Semua jenis makanan yang ada di café tersebut kelihatannya halal. Akan tetapi itu hanya menurut dari makanan yang saya pesan. Karena saya memesan chiken jadi saya bisa mengatakan kalau itu halal. Kemudian untuk para pelayannya, sepengetahuan saya ada 4 wanita yang bertugas di bagian depan. Saya kira bahwa pada saat itu adalah pergantian shift, karena biasanya pelayan bagian depan hanya 2 orang saja. Untuk penampilanan para pelayannya, saya akui memang sangat menarik akan tetapi sangat jelek menurut pandangan Islam karena mereka tidak berhijab dan mereka memakai rok yang panjangnya tidak samapai ke lutut sehingga sangat terlihat jelas aurat pada bagian paha. Dan menurut Islam itu sangat tidak diperbolehkan. Mereka memang ramah dalam melayani pelanggan, akan tetapi tidak sopan dalam agama Islam.
Cukup lama kami disitu sambil menikmati hidangan dan mengamati hal hal apa saja yang ada di café tersebut yang bisa diamati. Susananya memang sangat sejuk dan sangat nyaman apabila dijadikan sebagai tempat untuk mengerjakan tugas, rapat, ataupun bisa juga dijadikan sebagai tempat untuk pertemuan seperti pertemuan keluarga dan saudara. Akan tetapi, memang kurang pas apabila untuk acara keluarga seperti arisan karena menu nya yang harganya cukup mahal.
Pada waktu itu, saya merasa kaget setelah melihat nota atau bill karena harganya yang tidak sesuai dengan makanan yang saya pesan yang ada di daftar menu. Ketika itu di daftar menu dituliskan bahwa harga chicken katsu bento yang saya pesan itu tertulis seharga 28k atau sama dengan dua puluh delapan ribu rupiah. Akan tetapi, setelah selesai makan dan saat pembayaran, di nota harga chicken katsu bento tidak 28k melainkan 42k atau sama dengan empat puluh dua ribu rupiah. Disitu kemudian saya merasa sangat kecewa. Tapi tidak apalah, saya juga tidak protes atau bertanya mengapa bisa demikian. Karena kata teman saya, jenis chicken katsu bento juga tidak hanya satu, mungkin memang iya ada yang harganya 28k akan tetapi pelayannya membuatkan yang harga 42k sedangkan saya memesan yang 28k.
Setelah cukup lama kami makan dan mengamati café tersebut, kami bertiga pun bersiap-siap untuk pulang ke tempat tinggal kami masing-masing. Mereka, Faisal dan Tomi mungkin pulang dengan rasa kegembiraan sedangkan saya pulang dengan rasa sedikit sedih dan sangat kecewa karena pesanan yang salah tadi. Biasanya, jika di warung yang normal seperti mie ayam, bakso ataupun nasi sayur, saya protes jika ada makanan yang salah. Akan tetapi, tidak tahu kenapa pada kunjungan di café kemarin saya tidak protes karena makanan yang salah pesan. Kami bertiga pulang dari Hikaru Dining sekitar pukul tiga sore dan pada saat itu cuacanya sangat cerah, tidak hujan dan tidak panas sekali.
Pengalaman saya setelah menikmati hidangan di Hikari Dining adalah biasa biasa saja tetapi sangat menguras dompet. Makanannya rasanya biasa saja dan bahkan malah tidak lebih enak dari warung makan biasa seperti warung makan sambel layah ataupun warung makan ayam geprek. Karena dulu saya pernah bekerja di kedua warung makan tersebut dan jika dilihat dari rasa dan tampilannya, makanan makanan yang ada di warung makan sambel layah dan ayam geprek justru malah jauh lebih enak daripada yang ada di Hikaru Dining. Hanya saja, memang terlihat lebih bersih dan nyaman jika kita makan di Hikaru Dining. Karena letak Bangunan Hikaru Dining juga berada di dalam Mall dan memang sudah di desain untuk mayoritas orang yang memiliki uang lebih sehingga tidak heran jika harganya terkesan mahal. Tetapi itu hanya pendapat saya saja.
Kemudian untuk fenomena fenomena menurut nilai nilai Islam yang telah terjadi dan telah saya observasi di café tersebut selama saya menikmati hidangan di situ adalah pelayannya kurang sopan karena berpakainan tidak menutup aurat dan itu dilarang dalam hal agama. Menurut saya sebenarnya wajar saja jika pelayannya berpenampilan seperti itu karena memang café ini juga dari Jepang. Akan tetapi menurut aturan agama Islam tetap saja tidak diperbolehkan.
Namun yang cukup saya saluti adalah di café tersebut tidak ada orang berpacaran atau mesra-mesraan seperti layaknya café-café di kota besar di Indonesia. Mungkin memang karena pas jam siang, kalau malam jika kita masih mau melakukan observasi lagi, kemungkinan bisa saja ada orang yang mesra mesraan. Pada saat itu selama kami bertiga di café tersebut, hanya ada satu orang wanita di sebelah kami dan dua orang wanita di tempat duduk yang cukup jauh dari kami bertiga. Dan mereka pun kelihatannya santai sekali dan sangat menikmati suasana di café tersebut. Sebelum satu wanita disebelah kami, sebelumnya kursi itu ditempati oleh seorang bapak, jika melihat dari tampilannya, beliau adalah seorang pengusaha kaya yang sedang merasa bosan sehingga berkunjung di sebuah café untuk bersantai karena mungkin setelah lelah memikirkan pekerjaan.
Sebetulnya jika café-café tersebut kebanyakan mayoritas pelanggannya adalah bukan orang-orang Muslim melainkan banyak dari golongan non Muslim terutama orang-orang beragama Kristen Khatolik. Jika dikaitkan dengan mata kuliah Metodologi Studi Islam, awalnya saya pikir bahwa tidak ada kaitannya sama sekali dengan mata kuliah tersebut. Akan tetapi, setelah dilakukan observasi ke café-café semacam itu, justru malah erat kaitannya dengan mata kuliah Metodologi Studi Islam karena banyaknya hal hal yang bisa di teliti dan telaah erat kaitannya dengan aturan-aturan Agama Islam dan hal-hal yang menyimpang dengan ajaran agama Islam yang ada di café tersebut. Maka dari itu, kita terutama diri saya sendiri tidak boleh berpikiran sempit dan harus berpikir luas sebelum memberikan penilaian terhadap hal apapun itu, agar kita menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam segala hal.
Kesimpulannya adalah memakan makanan yang ada di café-café mewah memang sangat mengurs dompet, apalagi bagi orang yang kekayaannya bisa dikatakan menengah kebawah, saya sarankan untuk makan di warung biasa saja atau lebih baik memasak di rumah sendiri. Sesekali boleh mencicip masakan di café-café mewah tapi jangan sampai keterusan. Kemudian pandangan saya mengenai nilai-nilai keislaman di café tersebut hanyalah terletak pada makanannya yang halal saja. Demikian lah yang dapat saya tuliskan berdasarkan data dan pemahaman saya setelah melakukan kunjungan di Hikaru Dining kemarin. Sekian dan terimakasih.

Lampiran



  

Selasa, 27 Maret 2018

INFLASI


Nama : Wahyu Aji Galih Muslim
Kelas  : PBS 2B
NIM     : 175231074

Inflasi Naik Maka Negara Hancur

Inflasi adalah suatu keadaan di mana terdapat kecenderungan kenaikan harga barang dan jasa secara umum serta berlangsung secara terus-menerus yang diakibatkan oleh ke tidak seimbangan arus barang dan uang dalam suatu perekonomian. Yang dimaksud dengan harga dalam pengertian di atas adalah harga dari semua kebutuhan masyarakat, sedangkan terus-menerus berarti semua kenaikan barang terjadi bukan hanya sekali, tetapi berulang-ulang.
Kenaikan harga suatu barang dan jasa bisa terjadi apabila permintaan banyak tetapi berbanding terbalik dengan penawaran atau ketersediaan barang dan jasa di pasar yang tetap atau bahkan menurun. Dengan demikian istilah inflasi hanya digunakan ketika kenaikan tingkat harga yang berlangsung secara terus menerus.
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun, inflasi sedang antara 10%—30% setahun, inflasi berat antara 30%—100% setahun, dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan dan desakan biaya produksi. Inflasi tarikan permintaan terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment.
Inflasi desakan biaya terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal yaitu, kenaikan harga misalnya naiknya harga bahan baku dan kenaikan upah/gaji misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi. Faktor pertama adalah tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa. Faktor kedua adalah tuntutan kenaikan upah dari pekerja. Faktor ketiga yaitu kenaikan harga barang impor. Faktor keempat adalah penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru. Dan faktor yang terakhir adalah kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998. Akibatnya angka inflasi mencapai 70%.
Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata “inflasi”? Pasti kalian memikirkan harga barang-barang yang meningkat kan? Kenapa ya, masyarakat cemas jika inflasi terjadi? Tahukah kamu, ternyata selain berdampak negatif, inflasi juga memiliki dampak positif juga lho.
Kedengarannya aneh ya, inflasi kok memberikan dampak positif? Bagi sebagian pihak, inflasi justru malah menguntungkan contohnya orang-orang yang mendapat untung dengan adanya inflasi antara lain para pengusaha yang mempunyai pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya produksinya. Jika harga barang naik (saat inflasi), produsen akan terdorong untuk meningkatkan jumlah barangnya. Peningkatan jumlah barang ini tentu akan meningkatkan penghasilan produsen. Apalagi kalau barang yang dijual merupakan kebutuhan pokok yang akan tetap dibeli orang banyak meskipun harganya naik.
Selanjutnya, kira-kira apa saja kah dampak negatif inflasi? Pertama adalah orang-orang yang berpenghasilan tetap, mereka yang mempunyai penghasilan tetap seperti PNS, pegawai swasta, polisi, tentara akan mendapatkan dampak buruk dari inflasi. Dengan adanya inflasi, harga-harga barang akan naik, sementara pendapatan yang mereka terima tidak ikut naik. Lebih jauh, ini berarti inflasi bisa menurunkan tingkat kesejahteraan rakyat karena daya belinya yang semakin rendah.
Kemudian dampak inflasi bagi perekonomian nasional. Dampak pertama yaitu dapat memperburuk distribusi pendapatan, jika dilihat secara keseluruhan dari sudut pandang negara, inflasi akan menguntungkan bagi mereka yang mempunyai tingkat pendapatan lebih besar daripada laju inflasinya. Akan tetapi, jumlah mereka sangat sedikit jika dibandingkan dengan orang-orang yang mengalami kerugian akibat inflasi. Oleh karena itu, pola pembagian pendapatan di suatu negara menjadi berat sebelah dan tidak merata. Dampak kedua adalah Terganggungnya stabilitas ekonomi Negara, tidak bisa dipungkiri bahwa inflasi akan menyebabkan terganggunya stabilitas ekonomi. Hal ini dikarenakan sewaktu terjadi inflasi, akan ada kemungkinan bahwa inflasi akan berlangsung terus menerus, yang berarti harga-harga akan terus naik. Oleh karena itu, para konsumen memutuskan untuk melakukan pembelian besar-besaran sebelum harga naik, yang menyebabkan permintaan meningkat. Di sisi lain, produsen akan menurunkan penawaran, karena proses penjualan ketika inflasi akan menyebabkan produsen mendapat keuntungan yang lebih besar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa naiknya permintaan dan menurunnya penawaran akan mempercepat laju inflasi. Hasilnya, kondisi ekonomi secara umum akan menjadi lebih buruk lagi.
Adapun solusi untuk mengendalikan inflasi yaitu bank sentral. Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen, salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian yang justru akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

Sabtu, 24 Maret 2018

The Story of Santri Wagu


Nama   : Wahyu Aji Galih Muslim
Kelas   : PBS 2B
NIM    : 175231074

Live In Pondok Pesantren Imam Syuhodo

Awal cerita ketika saya dapat tugas untuk live in atau tinggal di salah satu pondok pesantren yang ada di kota Sragen atau Sukoharjo. Pilih salah satu pondok yang ada di kedua kota tersebut. Ketika mendapat tugas ini, awalnya saya berfikir begini “waduh tugasnya kok begini sih?” Jujur saja sebenarnya saya kurang nyaman dengan tugas live in seperti ini apalagi ini di pondok pesantren. Entah mengapa saya tidak nyaman dengan tugas seperti ini saya sendiri juga tidak mengerti. Tapi mau tidak mau, dengan rasa berat hati saya terpaksa harus melakukannya. Karena model pengajaran di tempat kuliah saya ini yaitu IAIN Surakarta adalah model paketan dan sudah ditentukan kelasnya, maka dalam melaksanakan tugas ini, saya melakukan pencarian pondok pesantren bersama dua teman laki-laki sekelas saya, sebut saja namanya Faisal dan Tomi.
Pada hari pencarian pondok pesantren pertama, kami bertiga sebenarnya sudah mendapatkan pondok pesantren yang sebetulnya bisa untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Akan tetapi, diantara kami ada yang tidak setuju jika pondok pesantren tersebut dijadikan sebagai objek penelitian. Terjadilah perdebatan, alhasil kami pun mencari podok pesantren lain untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Dalam melakukan pencarian pondok pesantren ini, kami bertiga melakukannya dengan menggunakan aplikasi google maps sebagai petunjuk arah dan google sebagai pencari daftar pondok pesantren yang ada di Sukoharjo. Oh iya dalam pencarian pondok pesantren, kami bertiga hanya mencarinya di kota Sukoharjo saja dan Alhamdulillah dapat.
Kami mendatangi pondok pesantren Darud Da’wah, pondok pesantren ini adalah yang pertama kami kunjungi. Kami tiba disana sekitar jam setengah 12 siang, tepat sebelum waktu dzuhur. Kami bertanya-tanya kepada santri yang ada disana, tiba waktu adzan dzuhur, kami pun melaksanakan sholat dzuhur disana. Setelah sholat dzuhur, kami mencoba untuk bertanya kepada Pak Ustad yang tadi mengimami sholat dzuhur. Kami bertanya dan meminta izin apakah kami boleh untuk melakukan observasi disini atau tidak. Akan tetapi, Pak Ustad yang mengimami sholat dzuhur tadi, tidak berani mengambil keputusan untuk mengizinkan kami untuk melakukan observasi karena beliua bukan pimpinan pondok pesantren ini. Kami disuruh menemui pimpinannya langsung. Dan kamipun akhirnya menuju ke ruangan pimpinan pondok pesantren ini. Namun Kepala pondoknya sedang pergi dan kata santrinya beliau pulangnya mungkin malam nanti. Alhasil kami berbincang bincang dulu dengan Pak Ustad yang lainnya, disitu kami berkenalan dan basa basi. Karena Pemimpin pondoknya sedang pergi, kami akhirnya kami bertukar nomor telepon dan diberikan no telepon pemimpin pondok untuk membahas perizinan itu.
Pada hari berikutnya sesuai dengan permintaan Pak Ustad yang ada di pondok pesantren tadi, kami menghubungi pemimpin pondok pesantren tersebut. Namun ketika kami menghubungi pemimpin pondok pesantren tersebut tidak ada respon sedikit pun. Karena hal itu, kami pun berencana untuk mencari pondok pesantren yang lainnya saja. Karena pada hari pertama belum mendapatkan pondok pesantren yang cocok, kami pun memutuskan untuk melanjutkan pencarian pondok pesantren pada hari yang lainnya saja. Di hari berikutnya, kami menemukan pondok pesantren Imam Syuhodo di desa Wonorejo kecamatan Polokarto kabupaten Sukoharjo. Kami tiba disana sore hari sekitar jam setengah empatan, disana kami perkenalana, kemudian berbincang-bincang dan tidak lupa untuk menyampaikan maksud dan tujuan kami dating ke pondok pesantren tersebut. Alhasil kami diizinkan untuk melakukan observasi dan live in di pondok pesantren tersebut.
Di hari berikutnya tepat jam 9 pagi sesuai perjanjian, kami datang lagi ke pondok tersebut dengan membawa surat izin dan barang barang perlengkapan kami untuk live in di pondok pesantren tersebut. Surat izin diserahkan, kemudian kami memulai live in di pondok pesantren tersebut. Ketika kami sampai di pondok pesantren tersebut, para santrinya sedang sekolah, akan tetapi ada juga yang pulang awal sekitar setengah 10 sudah selesai sekolah karena sedang ada latian ujian nasional untuk kelas 3 smp dan sma.
Setelah istirahat beberapa menit, kami langsung memulai penelitian ke ruang kelas, kami mengamati proses pembelajaran di dalam kelas. Dalam melakukan pengamatan, kami meminta izin untuk memasuki ruangan kelas dan diizinkan. Ternyata pembelajarannya sama saja dengan waktu saya sekolah dulu, hanya saja lebih banyak agamanya disini. Sewaktu kami memasuki kelas yang tidak ada gurunya, kebanyakan dari siswa disana menggunakan jam kosong untuk membaca Al-Qur’an. Namun ada juga yang bermain main, ya wajar saja lah namanya juga anak manusia pasti begitu.
Setelah selesai menagamati di dalam kelas, kami balik lagi ke kamar para santri. Di dalam kamar para santri kami saling berkenalan sambil mengamati bagaimana cara bergaul mereka. Dan ternyata anak anak pondok pesantren sama saja dengan anak anak pada umumnya, mereka sama sama rame, enak diajak bicara, dan tidak minim tentang dunia luar. Bahkan malah santri di pondok sebenarnya lebih beruntung karena mereka lebih tau tentang agama dan tata karma terhadapa orang tua.
Medengar suara adzan, kami bersama-sama para santri bergegas menuju masjid di pondok pesantren tersebut untuk melaksanakan sholat dzuhur. Tiba di masjid, kami langsung berwudhu dan siap siap masuk ke masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur. Uniknya di pondok pesantren ini, setelah adzan dan sambil menunggu waktu iqomah, para santri membaca Al-qur’an dan kami pun ikut membaca Al-qur’an. Akan tetapi, hanya kebanyakan saja yang membaca Al-qur’an, ada beberapa yang hanya duduk diam untuk menunggu iqomah.
Setelah selesai sholat dzuhur, para santri di pondok pesantren ini, berdzikir sebentar kemudian mereka membaca Al-qur’an, ada yang membacanya melingkar di area masjid dan ada juga yang membacanya di dalam kamar. Al-qur-an yang dibaca adalah Al-Qur’an yang sama dengan yang sering kita baca. Tidak hanya membaca saja, kebanyakan dari merek juga menghafal Al-Qur’an, ada yang sudah bisa menghafal 10 juz da nada juga yang baru hafal 1,2 juz saja. 1 atau 20 juz itu tidak masalah, yang penting ada niat untuk menghafal Al-Qur’an, yang masalah itu yang tidak menghafal.
Kemudian sekitar dari jam setengah dua sampai azhar adalah waktunya makan dan istirahat bagi santri, kalau dilingkungan pondok pesantren sering disebut dengan waktu bebas. Di waktu ini kami hanya mengamati para santri makan, makannya mengambil di pondok da nada jatah makan sendiri dari pondok, artinya sudah ditentukan oleh pihak pondok pesantren tersebut. Kalau ngambil makanannya bebas akan tetapi yang ditentukan adalah waktu makannya bukan porsi batasan makanan. Setelah selesai makan, para santri beristirahat, ada yang tidur, ada juga yang bermain main da nada juga yang bersantai sambil menunggu dating waktu azhar.
Tiba waktu azhar, para santri bersiap siap menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat azhar. Cara santri menunggu iqomah masih sama seperti waktu dzuhur dan setiap sholat wajib juga seperti ini. Untuk yang adzan adalah para santri dan bergantian sudah dijadwal. Yang membedakan adalah kegiatan setelah sholat azhar dan sholat dzuhur berbeda sedikit, kalau setelah sholat azhar ada tambahan setoran hafalan. Proses kegiatan ini adalah ada satu ustad dikelilingi beberapa santri atau puluhan santri. Para santri menyetorkan hafalan mereka, yang dihafalkan adalah surat Al-Qur’an atau Juznya. Di dalam proses ini memakan waktu yang cukup lama hingga selesai sampai sekitar jam setengah limanan.
Setelah para santri sudah selesai hafalan semua, kami berbincang bincang dengan Bapak Ustad Fatonah, beliau adalah salah satu penerus pendiri pondok pesantren Imam Syuhodo tersebut. Banyak hal yang kami bicarakan, kalau ditulis disini mungkin tidak cukup sepuluh halaman hanya untuk menuliskan hal hal yang kami bicarakana tapi apabila dijabarkan. Kami berbincang bincang dengan Bapak Ustad Fatonah sampai menjelang waktu maghrib karena beliau ada sebuah kebiasaan membunyikan lonceng peringatan kepada para santri untuk bersiap siap sholat maghrib.
Sudah adzan maghrib dan kegiatan sebelum sholat tetap sama. Setelah sholat maghrib, kegiatan tadarus dan hafalan biasa saja karena antara waktu maghrib ke isyak sangat dekat sekali. Kemudian memasuki waktu sholat isyak, kami dan para santri berwudhu kembali dan bersiap untuk melaksanakan sholat isyak. Sambil menunggu iqomah, kami dan para santri bertadarus sebentar. Kemudian setelah sholat isyak ada banyak kegiatan antara lain, tilawah dari santri di dalam masjid, ceramah dari Bapak Ustad Fatonah di dalam masjid dan kemudian latihan pidato bagi para santri di area pondok pesantren, artinya bahwa latihan pidato tidak dilakukan didalam masjid.
Yang pertama adalah tilawah dari santri, kegiatan ini dilakukan dengan proses seorang santri maju ke mimbar untuk bertilawah, setiap hari berganti santri. Tilawah yang dibacakan juga bebas dan waktunya juga tidak lama, paling hanya sekitar lima sampai sepuluh menit saja. Diatas mimbar seorang santri bertiwalah membacakan ayat ayat Al-Qur’an dengan suara yang merdu, dan karena saya dulunya juga pernah belajar tilawah, jadi saya bisa menilai bagaimana tilawah itu bagus atau kurang baik.
Setelah tilawah selesai, kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh Bapak Ustad Fatonah. Ceramahnya tidak dilakukan diatas mimbar melainkan dengan bantuan sebuah kursi yang lain dan diletakan didepan hadapan para santri. Dalam ceramahnya waktu itu, beliau menyampaikan sebuah pidato yang sangat bermanfaat dengan tema yang sebetulnya saya sendiri kurang mengetahui tetapi mengerti sedikit sedikit tentang isinya. Yaitu menjelaskan tentang tata krama dan sikap sikap yang harus dipenuhi atau dijalani oleh para santri. Sekitar dua puluh menitan, ceramah yang disampaikan oleh Bapak Ustad Fatonah pun berakhir.
Memasuki jam delapan lebih sepuluh menit, kini saatnya para santri kembali ke kamarnya masing masing dan bersiap siap untuk berkumpul di lapangan. Para santri dikasih waktu sekitar lima sampai sepuluh menit untuk persiapan dan kemudian berkumpul di lapangan samping masjid. Dilapangan, para santri berkumpul untuk menerima sebuah pengarah untuk latihan pidota sekalian pembagian kelompok pidato. Setiap kelompok ada delapan sampai sepuluh santri, dan mereka dibagi bagi tugasnya. Kegiatan latihan pidato ini dilakukan hanya setiap malam jum’at saja. Di malam malam yang lain juga ada kegiatan kegiatan yang lainnya.
Dalam kegiatan berpidato ini dilakukan sampai jam sembilan dan setelah jam sembilan, para santri berkumpul lagi di lapangan samping masjid untuk absen malam dan persiapan untuk kegiatan besok pagi yaitu jalan sehat dari pagi sampai sebelum dzuhur. Setelah absen dan pengarahan selesai, para santri kemudian diperbolehkan untuk istirahat dan tidur malam.
Jam tiga pagi, para santri dibangunkan untuk sholat tahajud. Ada yang bangun da nada juga yang tetap tidur sampai subuh baru bangun. Menjelang waktu subuh, kini saatnya bagi pengurus pondok pesantren untuk beraksi menguprak uprak para santri yang belum bangun. Pengurus pondok tersebut adalah santri juga namun, mereka adalah kelas tiga smp dan sma. Yang sudah diuprak uprak tapi tetap belum bangun, para santri tersebut akan disiram air yang cukup dingin. Menyedihkan sekali memang. Setelah itu santri ada yang mandi da nada juga yang bersiap siap untuk ke masjid melaksanakan sholat subuh.
Setelah sholat subuh, tadarus sebentar dan kemudian para santri bersiap siap untuk berkumpul di lapangan untuk absen pagi dan persiapan kegiatan jalan pagi. Para santri dikasih waktu dua puluh menit untuk persiapan. Setelah semua santri sudah berkumpul dilapangan, pengurus santri kemudian memberikan pengarahan dan pengecekan apakah santri sudah siap untuk melaksanakan kegiatan ataukah belum. Setelah santri sudah siap semua, berangkatlah mereka keluar dari lingkungan pondok pesantren dan melakukan kegiatan jalan pagi. Mereka keluar dari lingkungan pondok sekitar jam enam pagi. Karena sudah tidak ada lagi yang dapat kami observasi dari kegiatan para santri, kami pun memutuskan untuk berpamitan. Kami pamit dan berbincang bincang dulu dengan Bapak Ustad Fatonah. Pulanglah kami kembali ke asal dan keluar dari pondok pesantren Imam Syuhodo sekitar jam setengah delapan pagi.
Itulah beberapa ringkasan singkat yang dapat saya sampaikan berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan ketika saya di pondok pesantren Imam Syohodo. Semoga bermanfaat bagi kalian semua para pembaca. Ucapan terimakasih tak lupa saya ucapkan kepada Faisal dan Tomi teman saya selama observasi, Bapak Ustad Fatonah selaku Pimpinan pondok pesantren Imam Syuhodo, para kakak kakak pengurus pondok pesantren Imam Syuhodo, adik adik santri Imam Syuhodo, dan tak lupa para pengurus pondok pesantren Imam Syuhodo yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu. Sekali lagi terimakasih.

REFLEKSI
Saya sebagai mahasiswa Perbankan Syariah IAIN Surakarta sangat terkesan dengan lingkungan di pondok pesantren. Banyak hal yang saya dapatkan, banyak hal yang bisa saya jadikan sabagai pelajaran, dan banyak hal yang bisa saya temui. Karena dibalik segala sesuatu pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya. Itulah beberapa catatan yang say dapatkan selama live in di Pondok Pesantren Imam Syuhodo, semoga catatan kecil saya ini bisa bermakna bagi kalian para pembaca. Sekian, semoga bermanfaat. Terimakasih..

Wassalamu’allaikum wr wb….          

Lampiran:



Senin, 26 Februari 2018

Kitab Tafsirku

Nama   : Wahyu Aji Galih Muslim
NIM    : 175231074
Kelas   : PBS 2B

RESUME Kitab Tafsir Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani

Identitas Kitab Tafsir
Judul buku                  : Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari (Kitab Zakat)
Nama Pengarang         : Ibnu Hajar Al Asqalani
Tahun Terbit                : 2011
Penerbit                       : Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Dalam menulis kitab tafsir zakat ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani menggunakan sistematika yang sangat rapih. Mulai dari pengantar penerbit, daftar isi, bab-bab isi, penutup, glosarium hadits, glosarium nahwu dan sharaf, serta glosarium fiqih. Yang paling mengesankan adalah didalam setiap babnya  dijelaskan secara detail isi dan pemaknaan hadits didalamnya. Total ada 78 bab dan itu hanya membahas tentang zakat, sungguh sangat sangat dijelaskan secara detail. Didalam setiap bab terdapat beberapa hadits, yang itu merupakan hadits-hadits shahih al-Bukhari.
            Dari segi tampilannya, kitab asli ini menggunakan kertas berwarna kuning, tulisan arab gundul, da nada bebrapa yang diwarnai merah. Sampul buku ini berwarna biru tua dengan ukuran buku sekitar 25x15 cm. Sedangkan untuk buku tafsirnya menggunakan kertas berwarna putih dengan beberapa tulisan arab berwarna merah dan terjemahannya berwarna hitam. Terdapat banyak tulisn miring didalam buku tafsir ini.
            Ketika membaca kitab tafsir ini, ditemukan sebuah hadits yang sekiranya sangat menarik lalu kami mengamati, memahami dan difoto lah hadits tersebut untuk dicermati lebih detail lagi.




Dalam hadits di atas dijelaskan bahwasanya Nabi Sholallohu’allaihi Wassallam bersabda : “Jangan lah kamu tidak bersedekah atau menyimpan hartamu karena niscaya jika kamu tidak bersedekah maka Allah akan menyimpan rezeki-Nya atasmu atau tidak memberikannya kepadamu. Dan berilah semampumu!”
Melihat hadits diatas bahwasanya kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk bersedekah, maka dari itu, keluarkan lah sebagian hartamu dan bagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan harta itu daripada kamu. Niscaya dengan begitu, maka Allah akan memberikan rezeki yang lebih melimpah kepadamu.
Dan kalimat terakhir dari hadits tersebut yang berbunyi “berilah semampumu”. Kalimat tersebut memiliki makna yang artinya adalah kita sebagai umat Islam dalam berzakat atau bersedekah juga tidak boleh berlebihan atau sesuai kemampuan masing-masing. Contohnya adalah ketika seorang muslim ingin berzakat sedangkan dirinya kesusahan dalam menghidupi keluarga ataupun dirinya sendiri. Maka tidak ada tuntutan bagimu untuk berzakat, karena kamu adalah penerima zakat bukan orang yang diwajibkan untuk berzakat.
Biografi Pengarang     
Ibnu Hajar Al-Asqalani lahir pada tanggal 28 Februari 1372 M di Mesir. Nama lengkap beliau adalah Syihabuddin Abu Fadhal bin Nurudin Ali bin Muhammad bin Hajar al-Asqalany. Ibnu Hajar Al-Asqalani wafat di Mesir pada bulan Dzulhijjah 852 H atau pada bulan Juni 1449 M dalam usia antara 77 atau 79 tahun.
Refleksi
Setelah membaca kitab tafsir ini kami menyimpulkan bahwa zakat itu hukumnya penting/wajib untuk dilaksanakan bagi mereka yang mampu. Kesannya setelah membaca buku ini adalah kita menjadi lebih dapat berfikir lebih luas dan mengerti tentang zakat secara lebih detail. Jadi kesimpulannya adalah bahwasanya pengarang menulis kitab tafsir ini semata mata hanya untuk mengharap ridho Allah SWT dan meluruskan seluruh umat Islam di dunia agar tidak salah dalam memahami arti zakat yang sebenar-benarnya. 

Lampiran :



Rabu, 14 Februari 2018

MSI WAHYU


Nama   : Wahyu Aji Galih Muslim
NIM    : 175231074
Kelas   : PBS 2B


Penulis
Aris Widodo, M.A

Judul Buku
METODOLOGI STUDI ISLAM
Ilustrasi Kajian Islam Ranah Normatif dan Empiris

Penerbit
CV. Hidayah
Jl. Nagan Lor no. 14 Yogyakarta 55133

Tahun Terbit
2014



Resume Buku METODOLOGI STUDI ISLAM

            Metodologi berasal dari dua kata yaitu methodos dan logos. Methodos mempunyai arti cara yang berkaitan dengan upaya menyelesaikan sesuatu. Sedangkan logos sendiri mempunyai arti wawasan. Jika digabung menjadi kata metodologi. Metodologi adalah cara-cara yang berlaku dalam penelitian. Selanjutnya, studi islam disini maksudnya ilmu yang membahas tentang keagamaan. Jadi, metodologi studi islam adalah ilmu yang membahas seputar keislaman dan metode-metode dalam islam tersebut.
Nabi Muhammad SAW membawa agama islam yang di yakini dapat membuat kehidupan manusia menjadi sejahtera lahir dan batin. Agama tersebut terdapat petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang mempelajari dan memahami petunjuk-petunjuk tersebut kehidupannya menjadi berkah di dunia dan di akhirat. Dan bagi manusia yang tidak mempelajari dan memahami, maka kehidupan di dunia dan akhirat akan sengsara. Dalam islam terdapat sumber ajaran utama yaitu Al Quran dan Al Sunnah.

Sisi Filosofis Al-Qur’an dan Beberapa Kisah Ilustrasi
Al-Qur’an telah banyak menerapkan prinsip-prinsip logika dalam berbagai pokok-pokok permasalahan, misalnya ketika berbicara tentang Tuhan. Ketika membawa perenungan tentang Tuhan, kitab suci umat Islam ini tidak memberikan definisi secara langsung apa itu Tuhan. Yang diberikan Al Qur’an adalah menggambarkan beberapa karakteristik yang berkenaan dengan-Nya.
Al Qur’an banyak menyodorkan bahan-baku yang bisa menjadi titik-tolak perenungan filosofis. Bahan baku yang disodorka tersebut diantaranya diilustrasikan melalui kisah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman. Berkaitan dengan kosmologi, Al Qur’an banyak menyodorkan proposisi-proposisi yang bersifat saintifik. Misalnya mengenai masalah bagaimana alam semesta ini lahir dan apakah alam semesta itu bersifat statis ataukah mengembang.
Salah satu persoalan utama Al Qur’an dalam etika adalah apa yang sesungguhnya menggerakkan manusia untuk melakukan aktivitas; apa motivasi dasar mereka, dan apa yang mereka kejar? Untuk memulai pembahasan filosofis mengenai persoalan ini kita bisa mengambil beberapa ilustrasi Al Qur’an mengenai karakteristik orang munafik dan orang beriman. Mengapa orang munafik berdiri dengan malas sementara orang beriman melakukan shalat dengan penuh kekhusukan.
Sebuah Artikulasi Filosofis-Qur’ani dalam Tauhid Sosial sebagai Basis Pendidikan Islam
Al-Qur’an memberi ilustrasi mengenai sebuah pohon realitas, baik realitas kebaikan maupun realitas keburukan. Kita bisa mengetahui bahwa tauhid merupakan pintu gerbang masuknya orang ke dalam agama Islam, yang juga merupakan sebuah pohon kebaikan. Sementara syirik dan kufur merupakan pohon realitas yang buruk. Dengan demikian, ketika kita berbicara mengenai pendidikan Islam, yang merupakan salah satu cabang dari pohon kebaikan, harusnya kita bisa menjadikan tauhid sebagai paradigmanya.
Mengenai perluasan cakupan kesalehan, ada sebagian masyarakat Muslim yang mengukur kesalehan dari dimensi vertikal saja. Seseorang dikatakan saleh misalnya, shalatnya bagus, sering puasa, dan haji berkali kali. Namun dari segi lain, dalam kaitannya dengan dimensi horisontal, orang tersebut masih sering merugikan orang lain dalam mu’amalahnya. Inilah yang kemudian mengilhami pemikir-pemikir diatas untuk mengusahakan bagaimana agar dimensi vertikal bisa saling berkaitan dengan dimensi horisontal.
Kemudian sebagai basis pendidikan Islam, sumber pengetahuan manusia dengan berbagai perantaranya adalah Tuhan. Maka kita bisa menyatakan bahwa sumber dari pendidikan Islam juga tauhid, karena semuanya merujuk kepada satu Tuhan. Dengan demikian, pendidikan Islam mesti melakukan imitasi dalam hal ini, yaitu menjadikan tauhid yang berdimensi sosial sebagai paradigmanya.

Sebuah Konsep Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an
Setelah Perang Dunia kedua, kondisi ekonomi di Eropa yang mulai membaik memberi angin segar bagi maraknya gerakan fenimisme radikal, yang menuntut terbukanya peluang karier yang seluas-luasnya bagi perempuan. Melalui gerakan fenimisme radikal ini, berkembang isu-isu penentangan terhadap “seksisme” (diskriminasi berdasar jenis kelamin) dan “patriarkhi” (dominasi pria pada wanita). Isu isu seperti ini sekarang banyak mengilhami para pemikir Muslim Indonesia untuk memakai perspektif ini dalam meneropong ajaran-ajaran Islam, seperti tampak dalam tulisan Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia.
Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia mengemukakan bahwa posisi laki laki dan perempuan adalah setara, yakni sebagai hamba Allah. Seorang intelektual asal Iran, Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa Al-Qur’an sudah menggariskan posisi laki-laki dan perempuan dalam kedudukannya masing-masing secara proporsional. Muthahhari menulis, “wanita dan pria adalah sama-sama manusia dan keduanya mendapatkan hak yang sama dan setara”.

Apresiasi atas Pemikiran Agus Mustofa tentang Teka-teki Kekekalan Akhirat
Dalam upayanya untuk “menghidupkan” corak keberagamaan, Agus Mustofa mengajak umat Islam untuk menganalisa dan mendiskusikan informasi-informasi Al-Qur’an dengan bantuan teori-teori ilmiah dari sains modern sekarang ini. Maka di bukunya yang berjudul Ternyata Akhirat tidak Kekal, Agus Mustofa selalu berupaya menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan temuan-temuan sains modern.
Dari hasil peneropongannya tentang akhirat, Agus Mustofa menyimpulkan bahwa semua kehidupan manusia, baik di dunia sekarang ini maupun di akhirat nanti, akan dijalani di bumi. Dengan demikian, kehidupan syurga dan neraka yang merupakan fase kehidupan di akhirat juga dijalani di bumi. Oleh karena bumi tersebut suatu saat akan mengalami kehancuran, maka konsekuensinya, akhirat pun juga akan lenyap.
Tesis yang dikemukakan Agus Mustofa itu memiliki sisi kuat dan sisi lemah. Berkaitan dengan tidak-kekal-nya akhirat, Agus Mustofa menyatakan bahwa akhirat terlaksana sesudah kiamat bumi, dan kehidupan akhirat akan berakhir dengan terjadinya kiamat semesta. Meskipun dari sisi tidak-kekal-nya akhirat bisa saja diterima, karena yang kekal hanyalah Allah, namun cara berakhirnya akhirat tersebut tidak bisa diterima, mengingat yang disebut kiamat semesta bersamaan terjadinya dengan kiamat bumi.

Tunjauan Filsafat Hukum Islam dalam Khazanah Ritual Islam
Al-Qur’an menginformasikan bahwa semua manusia diciptakan dengan fitrah Allah. Di antara akhlaq Allah adalah Ar-Rahman yang berarti maha pengasih dan Ar-Rahim yang berarti maha penyayang. Dengan berpuasa, seseorang dapat membangkitkan perasaan simpati kepada fakir miskin, karena dengan berpuasa kita bisa merasakan sendiri bagaimana rasa menderitanya mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan adanya puasa yaitu, agar kita mensyukuri apa yang telah kita miliki.
Berzakat, selain bermakna mensucikan, juga berarti mensuburkan. Jadi, zakat fitrah merupakan simbol telah tumbuh suburnya fitrah, yaitu sifat rahmah (kasih sayang) dalam diri orang yang berpuasa, berupa perasaan simpati terhadap kaum papa dan kemudian mengulurkan tangan untuk membantu mereka. Inilah yang dalam bahasa modern disebut sebagai filantropi (kedermawanan).



Lampiran







Senin, 05 Februari 2018

MSI Tugas 1

Nama   : Wahyu Aji Galih Muslim
NIM    : 175231074
Kelas   : PBS 2B

Resume Buku METODOLOGI STUDI ISLAM
Penulis: Aris Widodo, M.A

Beberapa Kisah Ilustrasi tentang Filosofis Al-Qur’an
1.      Logika dalam Al-Qur’an
Secara teoritis, Al Qur’an memang tidak membicarakan logika; namun secara praksis, Al-Qur’an telah banyak menerapkan prinsip-prinsip logika dalam berbagai pokok-pokok permasalahan, misalnya ketika berbicara tentang Tuhan. Ketika membawa perenungan tentang Tuhan, kitab suci umat Islam ini tidak memberikan definisi secara langsung apa itu Tuhan. Yang diberikan Al-Qur’an adalah menggambarkan beberapa karakteristik yang berkenaan dengan-Nya.
2.      Al-Qur’an dalam Kajian Epistemologi
Dalam kaitannya dengan epistemology, Al Qur’an banyak menyodorkan bahan-baku yang bisa menjadi titik-tolak perenungan filosofis. Bahan baku yang disodorkan tersebut diantaranya diilustrasikan melalui kisah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman. Dikisahkan bahwa ketika Ratu Balqish diajak masuk oleh Nabi Sulaiman ke dalam istananya, maka tiba-tiba sang ratu menyingkapkan kain yang menutupi betisnya. Hal ini dilakukannya karena dalam pandangannya, lantai-istana yang sebetulnya terbuat dari kaca, terlihat seolah-olah adalah kolam air yang besar.
3.      Kajian Kosmologi
Berkaitan dengan kosmologi, Al-Qur’an banyak menyodorkan proposisi-proposisi yang bersifat saintifik. Misalnya mengenai masalah bagaimana alam semesta ini lahir dan apakah alam semesta itu bersifat statis ataukah mengembang.
4.      Bidang Metafisika
Jika metafisika dimaknai dengan realitas dibalik alam fisik, maka sebetulnya Al-Qur’an banyak sekali menyinggung persoalan ini, bahkan Al-Qur’an sendiri pada awalnya melalui proses metafisis, seperti diisyaratkan Allah dalam sabda-Nya, “Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu tulisan diatas kertas sehingga mereka bisa memegangnya dengan tangan mereka sendiri, niscaya orang orang yang ingkar itu akan berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata,’” (Surat Al-An’am/6: 7).
5.      Kajian Etika
Salah satu persoalan utama dalam etika adalah apa yang sesungguhnya menggerakkan manusia untuk melakukan aktivitas; apa motivasi dasar mereka, dan apa yang mereka kejar? Untuk memulai pembahasan filosofis mengenai persoalan ini kita bisa mengambil beberapa ilustrasi Al-Qur’an mengenai karakteristik orang munafik dan orang beriman dalam melakukan suatu aktifitas, misalnya dalam hal melaksanakan shalat, mengapa orang munafik berdiri dengan malas sementara orang beriman melakukan shalat dengan penuh kekhusukan.
6.      Estetika
Kisah yang sangat menarik dalam Al-Qur’an kaitannya dengan nilai estetis adalah tentang Zulaikha beserta komunitas kaum hawa-nya dan Nabi Yusuf. Seperti diceritakan dalam Surat/12: 23-32 bahwa Zulaikha terperangkap oleh pesona keindahan yang mewujud dalam diri Nabi Yusuf, sehingga berupaya untuk merayunya agar Zulaikha bisa merasakan keindahan itu, akan tetapi rayuan Zulaikha ditolak oleh Nabi Yusuf.

Tauhid Sosial sebagai Basis Pendidikan Islam
1.     Sebuah Ilustrasi dari Al-Qur’an yang disebut Pohon Realitas
Al-Qur’an memberi ilustrasi mengenai sebuah pohon realitas, baik realitas kebaikan maupun realitas keburukan. Kita bisa mengetahui bahwa tauhid merupakan pintu gerbang masuknya orang ke dalam agama Islam, yang juga merupakan sebuah pohon kebaikan. Sementara syirik dan kufur merupakan pohon realitas yang buruk. Dengan demikian, ketika kita berbicara mengenai pendidikan Islam, yang merupakan salah satu cabang dari pohon kebaikan, harusnya kita bisa menjadikan tauhid sebagai paradigmanya.
2.     Perluasan Cakupan Kesalehan
Ada beberapa intelektual Muslim Indonesia yang merasa perlu mengartikulasi bagaimana tauhid yang bernuansa teologis bisa connect dengan kehidupan Muslim yang bernuansa insaniyah. Misalnya seseorang dari golongan Muhammadiyah dan seseorang dari golongan NU. Ada sebagian masyarakat Muslim yang mengukur kesalehan dari dimensi vertikal saja. Seseorang dikatakan saleh manakala, misalnya, shalatnya bagus, sering puasa, dan haji berkali kali. Namun dari segi lain, dalam kaitannya dengan dimensi horisontal, orang tersebut masih sering merugikan orang lain dalam mu’amalahnya. Inilah yang kemudian mengilhami pemikir-pemikir diatas untuk mengusahakan bagaimana agar dimensi vertikal bisa saling berkaitan dengan dimensi horisontal.
3.     Basis Pendidikan Islam
Sumber pengetahuan manusia, dengan berbagai perantaranya adalah Tuhan. Maka kita bisa menyatakan bahwa sumber dari pendidikan Islam juga tauhid, karena semuanya merujuk kepada satu Tuhan. Dengan demikian, pendidikan Islam mesti melakukan imitasi dalam hal ini, yaitu menjadikan tauhid yang berdimensi sosial sebagai paradigmanya.

Konsep Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an
1.      Perempuan dalam Sejarah Peradaban Barat
Setelah Perang Dunia kedua, kondisi ekonomi di Eropa yang mulai membaik memberi angin segar bagi maraknya gerakan fenimisme radikal, yang menuntut terbukanya peluang karier yang seluas-luasnya bagi perempuan. Melalui gerakan fenimisme radikal ini, berkembang isu-isu penentangan terhadap “seksisme” (diskriminasi berdasar jenis kelamin) dan “patriarkhi” (dominasi pria pada wanita). Isu isu seperti ini sekarang banyak mengilhami para pemikir Muslim Indonesia untuk memakai perspektif ini dalam meneropong ajaran-ajaran Islam, seperti tampak dalam tulisan Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia.
2.      Konsep Kesetaraan Gender Pemikir Muslim Indonesia
Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia mengemukakan bahwa posisi laki laki dan perempuan adalah setara, yakni sebagai hamba Allah.
3.      Konsep Alternatif tentang Pola Relasi Laki-laki dan Perempuan
Seorang intelektual asal Iran, Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa Al-Qur’an sudah menggariskan posisi laki-laki dan perempuan dalam kedudukannya masing-masing secara proporsional. Muthahhari menulis, “wanita dan pria adalah sama-sama manusia dan keduanya mendapatkan hak yang sama dan setara”.

Teka-teki Kekekalan Akhirat: Pemikiran Agus Mustofa
1.      Mengenal Proyek Agus Mustofa
Dalam upayanya untuk menghidupkan corak keberagamaan, Agus Mustofa mengajak umat Islam untuk menganalisa dan mendiskusikan informasi-informasi Al-Qur’an dengan bantuan teori-teori ilmiah dari sains modern zaman sekarang. Maka di bukunya yang berjudul Ternyata Akhirat tidak Kekal, Agus Mustofa selalu berupaya menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan temuan-temuan sains modern.
2.      Pemikiran Agus Mustofa tentang Ketidakkekalan Akhirat
Dari hasil peneropongannya tentang akhirat, Agus Mustofa menyimpulkan bahwa semua kehidupan manusia, baik di dunia sekarang maupun di akhirat nanti, akan dijalani di bumi. Dengan demikian, kehidupan surga dan neraka yang merupakan fase kehidupan di akhirat juga dijalani di bumi. Oleh karena bumi tersebut suatu saat akan mengalami kehancuran, maka konsekuensinya, akhirat pun juga akan mengalami kehancuran.
3.      Apresiasi Pemikiran Agus Mustofa
Tesis yang dikemukakan Agus Mustofa itu memiliki sisi kuat dan sisi lemah. Berkaitan dengan tidak-kekal-nya akhirat, Agus Mustofa menyatakan bahwa akhirat terlaksana sesudah kiamat bumi, dan kehidupan akhirat akan berakhir dengan terjadinya kiamat semesta. Meskipun dari sisi tidak-kekal-nya akhirat bisa saja diterima, karena yang kekal hanyalah Allah, namun cara berakhirnya akhirat tersebut tidak bisa diterima, mengingat yang disebut kiamat semesta bersamaan terjadinya dengan kiamat bumi.

Anasir Filantropi dalam Prosesi Idul Fitri
1.     Makna Idul Fitri dalam Perdebatan
Menurut Abdul Hakim, pemaknaan istilah Idul Fitri sebagai kembali ke fitrah (suci) tidaklah tepat, karena pemaknaan demikian tidak didukung oleh hadist-hadist tentang Idul Fitri. Pendapat Adbul Hakim di atas, dari satu sisi memang benar, karena Idul Fitri memang merupakan masa dimana umat Islam menghentikan aktivitas puasa Ramadhan dan kembali berbuka seperti bulan-bulan sebelum dan sesudah Ramadhan. Namun di sisi lain, pendapat bahwa Idul Fitri merupakan momentum kembali kepada kondisi suci bisa juga diterima, mengingat banyak hadist yang berbicara tentang hasil akhir puasa yang mengindikasikan bahwa pelakunya telah memasuki kondisi suci, sehingga akan terbebas dari neraka.
2.     Fitrah sebagai Akhlaq
Al-Qur’an menginformasikan bahwa semua manusia diciptakan dengan fitrah Allah sebagaimana dijelaskan dalam Surat Ar-Rum/30: 30. Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadist: “semua bayi dilahirkan di atas fitrah itu.” Dalam bahasa Arab, sebuah akar kata bisa membentuk berbagai istilah yang bermacam-macam, namun biasanya masih berkaitan artinya. Jika kita bisa menerima bahwa akar kata fa’-ta’-ra’ senada artinya dengan kha’-lam-qaf, kita bisa menambahkan bahwa makna al-fitrah, bermakna al-khuluq atau al-khalaq. Sehingga “fitrah Allah” juga bermakna “akhlaq Allah.” Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadist yang berseru, “Ber-akhlaklah kalian dengan akhlaq Allah.”
3.     Puasa yang merupakan Sebuah Pembiasaan menuju Akhlaq Allah
Di antara akhlaq Allah adalah Ar-Rahman (maha pengasih) dan Ar-Rahim (maha Penyayang), yang efeknya adalah Ar-Rahmah (kasih sayang). Puasa berfungsi membangkitkan perasaan simpati kepada fakir miskin, karena dengan berpuasa kita kita bisa merasakan-sendiri (empati) bagaimana menderitanya mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan puasa sebulan lamanya, diharapkan perasaan simpati ini menjadi begitu kuat, sehingga melahirkan sifat rahmah (kasih sayang) terhadap orang-orang yang tidak mampu.
4.     Zakat Fitrah, Manifestasi berakhlaq dengan Akhlaq Allah
Berzakat, selain bermakna mensucikan, juga berarti mensuburkan. Jadi, zakat fitrah merupakan simbol telah tumbuh suburnya fitrah, yaitu sifat rahmah (kasih sayang) dalam diri orang yang berpuasa, berupa perasaan simpati terhadap kaum papa dan kemudian mengulurkan tangan untuk membantu mereka. Inilah yang dalam bahasa modern disebut sebagai filantropi (kedermawanan).
5.     Filantropi Lahir dan Bathin
Filantropi lahir diantaranya dengan ber-infaq dan filantropi bathin bisa kita wujudkan dengan memaafkan orang lain.