Nama : Wahyu Aji Galih Muslim
Kelas : PBS 2B
NIM : 175231074
Inflasi Naik Maka Negara Hancur
Inflasi adalah suatu keadaan di mana terdapat
kecenderungan kenaikan harga barang dan jasa secara umum serta berlangsung
secara terus-menerus yang diakibatkan oleh ke tidak seimbangan arus barang dan
uang dalam suatu perekonomian. Yang dimaksud dengan harga dalam pengertian di
atas adalah harga dari semua kebutuhan masyarakat, sedangkan terus-menerus
berarti semua kenaikan barang terjadi bukan hanya sekali, tetapi
berulang-ulang.
Kenaikan harga suatu barang dan jasa bisa terjadi apabila
permintaan banyak tetapi berbanding terbalik dengan penawaran atau ketersediaan
barang dan jasa di pasar yang tetap atau bahkan menurun. Dengan demikian
istilah inflasi hanya digunakan ketika kenaikan tingkat harga yang berlangsung
secara terus menerus.
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu
inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila
kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun, inflasi sedang antara 10%—30%
setahun, inflasi berat antara 30%—100% setahun, dan hiperinflasi atau inflasi
tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan
permintaan dan desakan biaya produksi. Inflasi tarikan permintaan terjadi
akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada
tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan
bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya
permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor
produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam
permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment.
Inflasi desakan biaya terjadi akibat meningkatnya biaya
produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang
dihasilkan ikut naik. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal yaitu,
kenaikan harga misalnya naiknya harga bahan baku dan kenaikan upah/gaji misalnya
kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga
barang-barang.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi.
Faktor pertama adalah tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa. Faktor kedua adalah tuntutan
kenaikan upah dari pekerja. Faktor ketiga yaitu kenaikan harga barang impor.
Faktor keempat adalah penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru.
Dan faktor yang terakhir adalah kekacauan politik dan ekonomi seperti yang
pernah terjadi di Indonesia tahun 1998. Akibatnya angka inflasi mencapai 70%.
Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata “inflasi”?
Pasti kalian memikirkan harga barang-barang yang meningkat kan? Kenapa ya,
masyarakat cemas jika inflasi terjadi? Tahukah kamu, ternyata selain berdampak
negatif, inflasi juga memiliki dampak positif juga lho.
Kedengarannya aneh ya, inflasi kok memberikan dampak
positif? Bagi sebagian pihak, inflasi justru malah menguntungkan contohnya orang-orang
yang mendapat untung dengan adanya inflasi antara lain para pengusaha yang
mempunyai pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya produksinya.
Jika harga barang naik (saat inflasi), produsen akan terdorong untuk meningkatkan
jumlah barangnya. Peningkatan jumlah barang ini tentu akan meningkatkan
penghasilan produsen. Apalagi kalau barang yang dijual merupakan kebutuhan
pokok yang akan tetap dibeli orang banyak meskipun harganya naik.
Selanjutnya, kira-kira apa saja kah dampak negatif
inflasi? Pertama adalah orang-orang yang berpenghasilan tetap, mereka yang
mempunyai penghasilan tetap seperti PNS, pegawai swasta, polisi, tentara akan
mendapatkan dampak buruk dari inflasi. Dengan adanya inflasi, harga-harga barang
akan naik, sementara pendapatan yang mereka terima tidak ikut naik. Lebih jauh,
ini berarti inflasi bisa menurunkan tingkat kesejahteraan rakyat karena daya
belinya yang semakin rendah.
Kemudian dampak inflasi bagi perekonomian nasional.
Dampak pertama yaitu dapat memperburuk distribusi pendapatan, jika dilihat
secara keseluruhan dari sudut pandang negara, inflasi akan menguntungkan bagi
mereka yang mempunyai tingkat pendapatan lebih besar daripada laju inflasinya.
Akan tetapi, jumlah mereka sangat sedikit jika dibandingkan dengan orang-orang
yang mengalami kerugian akibat inflasi. Oleh karena itu, pola pembagian
pendapatan di suatu negara menjadi berat sebelah dan tidak merata. Dampak kedua
adalah Terganggungnya stabilitas ekonomi Negara, tidak bisa dipungkiri bahwa
inflasi akan menyebabkan terganggunya stabilitas ekonomi. Hal ini dikarenakan
sewaktu terjadi inflasi, akan ada kemungkinan bahwa inflasi akan berlangsung
terus menerus, yang berarti harga-harga akan terus naik. Oleh karena itu, para
konsumen memutuskan untuk melakukan pembelian besar-besaran sebelum harga naik,
yang menyebabkan permintaan meningkat. Di sisi lain, produsen akan menurunkan
penawaran, karena proses penjualan ketika inflasi akan menyebabkan produsen
mendapat keuntungan yang lebih besar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa
naiknya permintaan dan menurunnya penawaran akan mempercepat laju inflasi.
Hasilnya, kondisi ekonomi secara umum akan menjadi lebih buruk lagi.
Adapun solusi untuk mengendalikan inflasi yaitu bank
sentral. Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi.
Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi
pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang
independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak
di luar bank sentral termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah
studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen, salah satunya
disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk
mendorong perekonomian yang justru akan mendorong tingkat inflasi yang lebih
tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar
dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain
itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang
domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat
internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini
pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia,
termasuk oleh Bank Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar