Senin, 26 Februari 2018

Kitab Tafsirku

Nama   : Wahyu Aji Galih Muslim
NIM    : 175231074
Kelas   : PBS 2B

RESUME Kitab Tafsir Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani

Identitas Kitab Tafsir
Judul buku                  : Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari (Kitab Zakat)
Nama Pengarang         : Ibnu Hajar Al Asqalani
Tahun Terbit                : 2011
Penerbit                       : Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Dalam menulis kitab tafsir zakat ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani menggunakan sistematika yang sangat rapih. Mulai dari pengantar penerbit, daftar isi, bab-bab isi, penutup, glosarium hadits, glosarium nahwu dan sharaf, serta glosarium fiqih. Yang paling mengesankan adalah didalam setiap babnya  dijelaskan secara detail isi dan pemaknaan hadits didalamnya. Total ada 78 bab dan itu hanya membahas tentang zakat, sungguh sangat sangat dijelaskan secara detail. Didalam setiap bab terdapat beberapa hadits, yang itu merupakan hadits-hadits shahih al-Bukhari.
            Dari segi tampilannya, kitab asli ini menggunakan kertas berwarna kuning, tulisan arab gundul, da nada bebrapa yang diwarnai merah. Sampul buku ini berwarna biru tua dengan ukuran buku sekitar 25x15 cm. Sedangkan untuk buku tafsirnya menggunakan kertas berwarna putih dengan beberapa tulisan arab berwarna merah dan terjemahannya berwarna hitam. Terdapat banyak tulisn miring didalam buku tafsir ini.
            Ketika membaca kitab tafsir ini, ditemukan sebuah hadits yang sekiranya sangat menarik lalu kami mengamati, memahami dan difoto lah hadits tersebut untuk dicermati lebih detail lagi.




Dalam hadits di atas dijelaskan bahwasanya Nabi Sholallohu’allaihi Wassallam bersabda : “Jangan lah kamu tidak bersedekah atau menyimpan hartamu karena niscaya jika kamu tidak bersedekah maka Allah akan menyimpan rezeki-Nya atasmu atau tidak memberikannya kepadamu. Dan berilah semampumu!”
Melihat hadits diatas bahwasanya kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk bersedekah, maka dari itu, keluarkan lah sebagian hartamu dan bagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan harta itu daripada kamu. Niscaya dengan begitu, maka Allah akan memberikan rezeki yang lebih melimpah kepadamu.
Dan kalimat terakhir dari hadits tersebut yang berbunyi “berilah semampumu”. Kalimat tersebut memiliki makna yang artinya adalah kita sebagai umat Islam dalam berzakat atau bersedekah juga tidak boleh berlebihan atau sesuai kemampuan masing-masing. Contohnya adalah ketika seorang muslim ingin berzakat sedangkan dirinya kesusahan dalam menghidupi keluarga ataupun dirinya sendiri. Maka tidak ada tuntutan bagimu untuk berzakat, karena kamu adalah penerima zakat bukan orang yang diwajibkan untuk berzakat.
Biografi Pengarang     
Ibnu Hajar Al-Asqalani lahir pada tanggal 28 Februari 1372 M di Mesir. Nama lengkap beliau adalah Syihabuddin Abu Fadhal bin Nurudin Ali bin Muhammad bin Hajar al-Asqalany. Ibnu Hajar Al-Asqalani wafat di Mesir pada bulan Dzulhijjah 852 H atau pada bulan Juni 1449 M dalam usia antara 77 atau 79 tahun.
Refleksi
Setelah membaca kitab tafsir ini kami menyimpulkan bahwa zakat itu hukumnya penting/wajib untuk dilaksanakan bagi mereka yang mampu. Kesannya setelah membaca buku ini adalah kita menjadi lebih dapat berfikir lebih luas dan mengerti tentang zakat secara lebih detail. Jadi kesimpulannya adalah bahwasanya pengarang menulis kitab tafsir ini semata mata hanya untuk mengharap ridho Allah SWT dan meluruskan seluruh umat Islam di dunia agar tidak salah dalam memahami arti zakat yang sebenar-benarnya. 

Lampiran :



Rabu, 14 Februari 2018

MSI WAHYU


Nama   : Wahyu Aji Galih Muslim
NIM    : 175231074
Kelas   : PBS 2B


Penulis
Aris Widodo, M.A

Judul Buku
METODOLOGI STUDI ISLAM
Ilustrasi Kajian Islam Ranah Normatif dan Empiris

Penerbit
CV. Hidayah
Jl. Nagan Lor no. 14 Yogyakarta 55133

Tahun Terbit
2014



Resume Buku METODOLOGI STUDI ISLAM

            Metodologi berasal dari dua kata yaitu methodos dan logos. Methodos mempunyai arti cara yang berkaitan dengan upaya menyelesaikan sesuatu. Sedangkan logos sendiri mempunyai arti wawasan. Jika digabung menjadi kata metodologi. Metodologi adalah cara-cara yang berlaku dalam penelitian. Selanjutnya, studi islam disini maksudnya ilmu yang membahas tentang keagamaan. Jadi, metodologi studi islam adalah ilmu yang membahas seputar keislaman dan metode-metode dalam islam tersebut.
Nabi Muhammad SAW membawa agama islam yang di yakini dapat membuat kehidupan manusia menjadi sejahtera lahir dan batin. Agama tersebut terdapat petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang mempelajari dan memahami petunjuk-petunjuk tersebut kehidupannya menjadi berkah di dunia dan di akhirat. Dan bagi manusia yang tidak mempelajari dan memahami, maka kehidupan di dunia dan akhirat akan sengsara. Dalam islam terdapat sumber ajaran utama yaitu Al Quran dan Al Sunnah.

Sisi Filosofis Al-Qur’an dan Beberapa Kisah Ilustrasi
Al-Qur’an telah banyak menerapkan prinsip-prinsip logika dalam berbagai pokok-pokok permasalahan, misalnya ketika berbicara tentang Tuhan. Ketika membawa perenungan tentang Tuhan, kitab suci umat Islam ini tidak memberikan definisi secara langsung apa itu Tuhan. Yang diberikan Al Qur’an adalah menggambarkan beberapa karakteristik yang berkenaan dengan-Nya.
Al Qur’an banyak menyodorkan bahan-baku yang bisa menjadi titik-tolak perenungan filosofis. Bahan baku yang disodorka tersebut diantaranya diilustrasikan melalui kisah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman. Berkaitan dengan kosmologi, Al Qur’an banyak menyodorkan proposisi-proposisi yang bersifat saintifik. Misalnya mengenai masalah bagaimana alam semesta ini lahir dan apakah alam semesta itu bersifat statis ataukah mengembang.
Salah satu persoalan utama Al Qur’an dalam etika adalah apa yang sesungguhnya menggerakkan manusia untuk melakukan aktivitas; apa motivasi dasar mereka, dan apa yang mereka kejar? Untuk memulai pembahasan filosofis mengenai persoalan ini kita bisa mengambil beberapa ilustrasi Al Qur’an mengenai karakteristik orang munafik dan orang beriman. Mengapa orang munafik berdiri dengan malas sementara orang beriman melakukan shalat dengan penuh kekhusukan.
Sebuah Artikulasi Filosofis-Qur’ani dalam Tauhid Sosial sebagai Basis Pendidikan Islam
Al-Qur’an memberi ilustrasi mengenai sebuah pohon realitas, baik realitas kebaikan maupun realitas keburukan. Kita bisa mengetahui bahwa tauhid merupakan pintu gerbang masuknya orang ke dalam agama Islam, yang juga merupakan sebuah pohon kebaikan. Sementara syirik dan kufur merupakan pohon realitas yang buruk. Dengan demikian, ketika kita berbicara mengenai pendidikan Islam, yang merupakan salah satu cabang dari pohon kebaikan, harusnya kita bisa menjadikan tauhid sebagai paradigmanya.
Mengenai perluasan cakupan kesalehan, ada sebagian masyarakat Muslim yang mengukur kesalehan dari dimensi vertikal saja. Seseorang dikatakan saleh misalnya, shalatnya bagus, sering puasa, dan haji berkali kali. Namun dari segi lain, dalam kaitannya dengan dimensi horisontal, orang tersebut masih sering merugikan orang lain dalam mu’amalahnya. Inilah yang kemudian mengilhami pemikir-pemikir diatas untuk mengusahakan bagaimana agar dimensi vertikal bisa saling berkaitan dengan dimensi horisontal.
Kemudian sebagai basis pendidikan Islam, sumber pengetahuan manusia dengan berbagai perantaranya adalah Tuhan. Maka kita bisa menyatakan bahwa sumber dari pendidikan Islam juga tauhid, karena semuanya merujuk kepada satu Tuhan. Dengan demikian, pendidikan Islam mesti melakukan imitasi dalam hal ini, yaitu menjadikan tauhid yang berdimensi sosial sebagai paradigmanya.

Sebuah Konsep Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an
Setelah Perang Dunia kedua, kondisi ekonomi di Eropa yang mulai membaik memberi angin segar bagi maraknya gerakan fenimisme radikal, yang menuntut terbukanya peluang karier yang seluas-luasnya bagi perempuan. Melalui gerakan fenimisme radikal ini, berkembang isu-isu penentangan terhadap “seksisme” (diskriminasi berdasar jenis kelamin) dan “patriarkhi” (dominasi pria pada wanita). Isu isu seperti ini sekarang banyak mengilhami para pemikir Muslim Indonesia untuk memakai perspektif ini dalam meneropong ajaran-ajaran Islam, seperti tampak dalam tulisan Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia.
Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia mengemukakan bahwa posisi laki laki dan perempuan adalah setara, yakni sebagai hamba Allah. Seorang intelektual asal Iran, Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa Al-Qur’an sudah menggariskan posisi laki-laki dan perempuan dalam kedudukannya masing-masing secara proporsional. Muthahhari menulis, “wanita dan pria adalah sama-sama manusia dan keduanya mendapatkan hak yang sama dan setara”.

Apresiasi atas Pemikiran Agus Mustofa tentang Teka-teki Kekekalan Akhirat
Dalam upayanya untuk “menghidupkan” corak keberagamaan, Agus Mustofa mengajak umat Islam untuk menganalisa dan mendiskusikan informasi-informasi Al-Qur’an dengan bantuan teori-teori ilmiah dari sains modern sekarang ini. Maka di bukunya yang berjudul Ternyata Akhirat tidak Kekal, Agus Mustofa selalu berupaya menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan temuan-temuan sains modern.
Dari hasil peneropongannya tentang akhirat, Agus Mustofa menyimpulkan bahwa semua kehidupan manusia, baik di dunia sekarang ini maupun di akhirat nanti, akan dijalani di bumi. Dengan demikian, kehidupan syurga dan neraka yang merupakan fase kehidupan di akhirat juga dijalani di bumi. Oleh karena bumi tersebut suatu saat akan mengalami kehancuran, maka konsekuensinya, akhirat pun juga akan lenyap.
Tesis yang dikemukakan Agus Mustofa itu memiliki sisi kuat dan sisi lemah. Berkaitan dengan tidak-kekal-nya akhirat, Agus Mustofa menyatakan bahwa akhirat terlaksana sesudah kiamat bumi, dan kehidupan akhirat akan berakhir dengan terjadinya kiamat semesta. Meskipun dari sisi tidak-kekal-nya akhirat bisa saja diterima, karena yang kekal hanyalah Allah, namun cara berakhirnya akhirat tersebut tidak bisa diterima, mengingat yang disebut kiamat semesta bersamaan terjadinya dengan kiamat bumi.

Tunjauan Filsafat Hukum Islam dalam Khazanah Ritual Islam
Al-Qur’an menginformasikan bahwa semua manusia diciptakan dengan fitrah Allah. Di antara akhlaq Allah adalah Ar-Rahman yang berarti maha pengasih dan Ar-Rahim yang berarti maha penyayang. Dengan berpuasa, seseorang dapat membangkitkan perasaan simpati kepada fakir miskin, karena dengan berpuasa kita bisa merasakan sendiri bagaimana rasa menderitanya mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan adanya puasa yaitu, agar kita mensyukuri apa yang telah kita miliki.
Berzakat, selain bermakna mensucikan, juga berarti mensuburkan. Jadi, zakat fitrah merupakan simbol telah tumbuh suburnya fitrah, yaitu sifat rahmah (kasih sayang) dalam diri orang yang berpuasa, berupa perasaan simpati terhadap kaum papa dan kemudian mengulurkan tangan untuk membantu mereka. Inilah yang dalam bahasa modern disebut sebagai filantropi (kedermawanan).



Lampiran







Senin, 05 Februari 2018

MSI Tugas 1

Nama   : Wahyu Aji Galih Muslim
NIM    : 175231074
Kelas   : PBS 2B

Resume Buku METODOLOGI STUDI ISLAM
Penulis: Aris Widodo, M.A

Beberapa Kisah Ilustrasi tentang Filosofis Al-Qur’an
1.      Logika dalam Al-Qur’an
Secara teoritis, Al Qur’an memang tidak membicarakan logika; namun secara praksis, Al-Qur’an telah banyak menerapkan prinsip-prinsip logika dalam berbagai pokok-pokok permasalahan, misalnya ketika berbicara tentang Tuhan. Ketika membawa perenungan tentang Tuhan, kitab suci umat Islam ini tidak memberikan definisi secara langsung apa itu Tuhan. Yang diberikan Al-Qur’an adalah menggambarkan beberapa karakteristik yang berkenaan dengan-Nya.
2.      Al-Qur’an dalam Kajian Epistemologi
Dalam kaitannya dengan epistemology, Al Qur’an banyak menyodorkan bahan-baku yang bisa menjadi titik-tolak perenungan filosofis. Bahan baku yang disodorkan tersebut diantaranya diilustrasikan melalui kisah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman. Dikisahkan bahwa ketika Ratu Balqish diajak masuk oleh Nabi Sulaiman ke dalam istananya, maka tiba-tiba sang ratu menyingkapkan kain yang menutupi betisnya. Hal ini dilakukannya karena dalam pandangannya, lantai-istana yang sebetulnya terbuat dari kaca, terlihat seolah-olah adalah kolam air yang besar.
3.      Kajian Kosmologi
Berkaitan dengan kosmologi, Al-Qur’an banyak menyodorkan proposisi-proposisi yang bersifat saintifik. Misalnya mengenai masalah bagaimana alam semesta ini lahir dan apakah alam semesta itu bersifat statis ataukah mengembang.
4.      Bidang Metafisika
Jika metafisika dimaknai dengan realitas dibalik alam fisik, maka sebetulnya Al-Qur’an banyak sekali menyinggung persoalan ini, bahkan Al-Qur’an sendiri pada awalnya melalui proses metafisis, seperti diisyaratkan Allah dalam sabda-Nya, “Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu tulisan diatas kertas sehingga mereka bisa memegangnya dengan tangan mereka sendiri, niscaya orang orang yang ingkar itu akan berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata,’” (Surat Al-An’am/6: 7).
5.      Kajian Etika
Salah satu persoalan utama dalam etika adalah apa yang sesungguhnya menggerakkan manusia untuk melakukan aktivitas; apa motivasi dasar mereka, dan apa yang mereka kejar? Untuk memulai pembahasan filosofis mengenai persoalan ini kita bisa mengambil beberapa ilustrasi Al-Qur’an mengenai karakteristik orang munafik dan orang beriman dalam melakukan suatu aktifitas, misalnya dalam hal melaksanakan shalat, mengapa orang munafik berdiri dengan malas sementara orang beriman melakukan shalat dengan penuh kekhusukan.
6.      Estetika
Kisah yang sangat menarik dalam Al-Qur’an kaitannya dengan nilai estetis adalah tentang Zulaikha beserta komunitas kaum hawa-nya dan Nabi Yusuf. Seperti diceritakan dalam Surat/12: 23-32 bahwa Zulaikha terperangkap oleh pesona keindahan yang mewujud dalam diri Nabi Yusuf, sehingga berupaya untuk merayunya agar Zulaikha bisa merasakan keindahan itu, akan tetapi rayuan Zulaikha ditolak oleh Nabi Yusuf.

Tauhid Sosial sebagai Basis Pendidikan Islam
1.     Sebuah Ilustrasi dari Al-Qur’an yang disebut Pohon Realitas
Al-Qur’an memberi ilustrasi mengenai sebuah pohon realitas, baik realitas kebaikan maupun realitas keburukan. Kita bisa mengetahui bahwa tauhid merupakan pintu gerbang masuknya orang ke dalam agama Islam, yang juga merupakan sebuah pohon kebaikan. Sementara syirik dan kufur merupakan pohon realitas yang buruk. Dengan demikian, ketika kita berbicara mengenai pendidikan Islam, yang merupakan salah satu cabang dari pohon kebaikan, harusnya kita bisa menjadikan tauhid sebagai paradigmanya.
2.     Perluasan Cakupan Kesalehan
Ada beberapa intelektual Muslim Indonesia yang merasa perlu mengartikulasi bagaimana tauhid yang bernuansa teologis bisa connect dengan kehidupan Muslim yang bernuansa insaniyah. Misalnya seseorang dari golongan Muhammadiyah dan seseorang dari golongan NU. Ada sebagian masyarakat Muslim yang mengukur kesalehan dari dimensi vertikal saja. Seseorang dikatakan saleh manakala, misalnya, shalatnya bagus, sering puasa, dan haji berkali kali. Namun dari segi lain, dalam kaitannya dengan dimensi horisontal, orang tersebut masih sering merugikan orang lain dalam mu’amalahnya. Inilah yang kemudian mengilhami pemikir-pemikir diatas untuk mengusahakan bagaimana agar dimensi vertikal bisa saling berkaitan dengan dimensi horisontal.
3.     Basis Pendidikan Islam
Sumber pengetahuan manusia, dengan berbagai perantaranya adalah Tuhan. Maka kita bisa menyatakan bahwa sumber dari pendidikan Islam juga tauhid, karena semuanya merujuk kepada satu Tuhan. Dengan demikian, pendidikan Islam mesti melakukan imitasi dalam hal ini, yaitu menjadikan tauhid yang berdimensi sosial sebagai paradigmanya.

Konsep Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an
1.      Perempuan dalam Sejarah Peradaban Barat
Setelah Perang Dunia kedua, kondisi ekonomi di Eropa yang mulai membaik memberi angin segar bagi maraknya gerakan fenimisme radikal, yang menuntut terbukanya peluang karier yang seluas-luasnya bagi perempuan. Melalui gerakan fenimisme radikal ini, berkembang isu-isu penentangan terhadap “seksisme” (diskriminasi berdasar jenis kelamin) dan “patriarkhi” (dominasi pria pada wanita). Isu isu seperti ini sekarang banyak mengilhami para pemikir Muslim Indonesia untuk memakai perspektif ini dalam meneropong ajaran-ajaran Islam, seperti tampak dalam tulisan Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia.
2.      Konsep Kesetaraan Gender Pemikir Muslim Indonesia
Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia mengemukakan bahwa posisi laki laki dan perempuan adalah setara, yakni sebagai hamba Allah.
3.      Konsep Alternatif tentang Pola Relasi Laki-laki dan Perempuan
Seorang intelektual asal Iran, Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa Al-Qur’an sudah menggariskan posisi laki-laki dan perempuan dalam kedudukannya masing-masing secara proporsional. Muthahhari menulis, “wanita dan pria adalah sama-sama manusia dan keduanya mendapatkan hak yang sama dan setara”.

Teka-teki Kekekalan Akhirat: Pemikiran Agus Mustofa
1.      Mengenal Proyek Agus Mustofa
Dalam upayanya untuk menghidupkan corak keberagamaan, Agus Mustofa mengajak umat Islam untuk menganalisa dan mendiskusikan informasi-informasi Al-Qur’an dengan bantuan teori-teori ilmiah dari sains modern zaman sekarang. Maka di bukunya yang berjudul Ternyata Akhirat tidak Kekal, Agus Mustofa selalu berupaya menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan temuan-temuan sains modern.
2.      Pemikiran Agus Mustofa tentang Ketidakkekalan Akhirat
Dari hasil peneropongannya tentang akhirat, Agus Mustofa menyimpulkan bahwa semua kehidupan manusia, baik di dunia sekarang maupun di akhirat nanti, akan dijalani di bumi. Dengan demikian, kehidupan surga dan neraka yang merupakan fase kehidupan di akhirat juga dijalani di bumi. Oleh karena bumi tersebut suatu saat akan mengalami kehancuran, maka konsekuensinya, akhirat pun juga akan mengalami kehancuran.
3.      Apresiasi Pemikiran Agus Mustofa
Tesis yang dikemukakan Agus Mustofa itu memiliki sisi kuat dan sisi lemah. Berkaitan dengan tidak-kekal-nya akhirat, Agus Mustofa menyatakan bahwa akhirat terlaksana sesudah kiamat bumi, dan kehidupan akhirat akan berakhir dengan terjadinya kiamat semesta. Meskipun dari sisi tidak-kekal-nya akhirat bisa saja diterima, karena yang kekal hanyalah Allah, namun cara berakhirnya akhirat tersebut tidak bisa diterima, mengingat yang disebut kiamat semesta bersamaan terjadinya dengan kiamat bumi.

Anasir Filantropi dalam Prosesi Idul Fitri
1.     Makna Idul Fitri dalam Perdebatan
Menurut Abdul Hakim, pemaknaan istilah Idul Fitri sebagai kembali ke fitrah (suci) tidaklah tepat, karena pemaknaan demikian tidak didukung oleh hadist-hadist tentang Idul Fitri. Pendapat Adbul Hakim di atas, dari satu sisi memang benar, karena Idul Fitri memang merupakan masa dimana umat Islam menghentikan aktivitas puasa Ramadhan dan kembali berbuka seperti bulan-bulan sebelum dan sesudah Ramadhan. Namun di sisi lain, pendapat bahwa Idul Fitri merupakan momentum kembali kepada kondisi suci bisa juga diterima, mengingat banyak hadist yang berbicara tentang hasil akhir puasa yang mengindikasikan bahwa pelakunya telah memasuki kondisi suci, sehingga akan terbebas dari neraka.
2.     Fitrah sebagai Akhlaq
Al-Qur’an menginformasikan bahwa semua manusia diciptakan dengan fitrah Allah sebagaimana dijelaskan dalam Surat Ar-Rum/30: 30. Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadist: “semua bayi dilahirkan di atas fitrah itu.” Dalam bahasa Arab, sebuah akar kata bisa membentuk berbagai istilah yang bermacam-macam, namun biasanya masih berkaitan artinya. Jika kita bisa menerima bahwa akar kata fa’-ta’-ra’ senada artinya dengan kha’-lam-qaf, kita bisa menambahkan bahwa makna al-fitrah, bermakna al-khuluq atau al-khalaq. Sehingga “fitrah Allah” juga bermakna “akhlaq Allah.” Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadist yang berseru, “Ber-akhlaklah kalian dengan akhlaq Allah.”
3.     Puasa yang merupakan Sebuah Pembiasaan menuju Akhlaq Allah
Di antara akhlaq Allah adalah Ar-Rahman (maha pengasih) dan Ar-Rahim (maha Penyayang), yang efeknya adalah Ar-Rahmah (kasih sayang). Puasa berfungsi membangkitkan perasaan simpati kepada fakir miskin, karena dengan berpuasa kita kita bisa merasakan-sendiri (empati) bagaimana menderitanya mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan puasa sebulan lamanya, diharapkan perasaan simpati ini menjadi begitu kuat, sehingga melahirkan sifat rahmah (kasih sayang) terhadap orang-orang yang tidak mampu.
4.     Zakat Fitrah, Manifestasi berakhlaq dengan Akhlaq Allah
Berzakat, selain bermakna mensucikan, juga berarti mensuburkan. Jadi, zakat fitrah merupakan simbol telah tumbuh suburnya fitrah, yaitu sifat rahmah (kasih sayang) dalam diri orang yang berpuasa, berupa perasaan simpati terhadap kaum papa dan kemudian mengulurkan tangan untuk membantu mereka. Inilah yang dalam bahasa modern disebut sebagai filantropi (kedermawanan).
5.     Filantropi Lahir dan Bathin
Filantropi lahir diantaranya dengan ber-infaq dan filantropi bathin bisa kita wujudkan dengan memaafkan orang lain.