Nama : Wahyu Aji galih Muslim
Kelas : PBS 2B
NIM : 175231074
Feel the Atmosphere in Hikaru Dining at Hartono Mall
Berawal dari
sebuah tugas mata kuliah MSI (Metodologi Studi Islam) yang di ampu oleh dosen
bernama Bapak Endy Saputro. Kami para mahasiswa/mahasiswi kelas PBS 2B ditugasi
untuk mengunjungi café atau resto yang ada di Solo dan Sukoharjo, pilih salah
satu café atau resto. Sebetulnya bukan memilih, akan tetapi di undi, ada 16
gulungan kertas kecil yang didalamnya ada tulisan nama café atau resto yang ada
di Sukoharjo dan Solo. Kelas kami yaitu PBS 2B dibagi menjadi 12 kelompok dan
setiap kelompok beranggotakan 3 orang jadi jumlah semua mahasiswa/mahasiswi
kelas PBS 2B yaitu 36 orang. Ketika undian, setiap kelompok maju kedepan untuk
mengambil gulungan kertas tersebut dan kebetulan saya perwakilan dari kelompok
saya untuk mengambil gulungan kertas tersebut. Kelompok saya terdiri dari saya,
Tomi dan Faisal Kelompok saya dapat gulungan kertas yang didalamnya bertuliskan
Hikaru Dining. Jadi, kelompok saya dapat tugasnya untuk berkunjung, mengamati
dan merasakan produk yang ada di Hikaru
Dining serta meneliti kondisi dan suasana café tersebut bagaimana hubungannya
dengan Islam.
Tepat tanggal 02
Mei 2018 sekitar jam dua belas siang, kami bertiga berangkat ke Hikaru Dining
Hartono Mall yang ada di Kota Sukoharjo. Kami bertiga kesana naik motor, saya
boncengan sama Faisal dan Tomi naik motor sendiri. Kami berangkat dari kampus
dan itu setelah mata kuliah Akhlaq dan Tasawuf selesai. Perjalanan dari kampus
ke Hikaru Dining hartono Mall sekitar setengah jam atau 30 menit. Waktu itu,
kami berangkat jam dua belas siang dan suhunya sangat panas, apalagi jalanan
cukup macet sehingga membuat saya merasa kurang nyaman di jalan. Akan tetapi,
setelah sampai di Hartono Mall, suasana hati saya seketika itu langsung berubah
dan saya sudah merasa cukup lega karena sudah melewati perjalanan yang kurang
menyenangkan. Sebelum tiba di Hartono Mall, kami bertiga juga melewati beberapa
gedung perusahaan yaitu Transmart, Grand Mall dan masih banyak lagi yang
lainnya.
Setelah sampai
di Hartono Mall, kami bertiga langsung menuju keparkiran yang ada di lantai
bawah gedung hartono Mall. Motor sudah diparkirkan dan kemudian kami langsung
menuju ke atas untuk mencari Hikaru Dining. Sebelumnya saya belum pernah ke
café ini, maka dari itu kami bertiga mencari dulu. Akan tetapi, untuk mencari
café Hikaru Dining tidaklah sulit karena tempatnya yang sangat strategis. Kami
menemukan café tersebut di lantai dua. Setelah menemukan café tersebut, kami
langsung masuk ke dalam café tersebut. Hikaru dining adalah café yang terkenal
dengan makanannya yang berasal dari Asia terutama Jepang. Baru mendengar
namanya saja kita sudah bisa tahu kalau Hikaru Dining adalah kata yang identic
dengan Negara Jepang.
Setelah masuk,
kami langsung duduk dan kemudian ada seorang pelayang cewek yang datang
menghampiri kami dan memberikan daftar menu makanan dan minumannya. Setelah
lama kami melihat daftar menu makannya, kami pun langsung memesan. Makanan yang
saya pesan adalah chiken katsu bento dan soda root beer. Saya adalah seorang
yang dari dulu sangat suka minum soda, jadi kemanapun saya pergi ke tempat yang
terlihat mewah, kemungkinan minuman yang saya pesan adalah minuman yang
mengandung soda. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pesanan kami sudah jadi
dan siap untuk di makan. Kami pun menikmati hidangan sambil mengamati café
tersebut, bagaimana suasananya dan semua yang ada di café tersebut bagaimana
hubungannya dengan Islam.
Semua jenis
makanan yang ada di café tersebut kelihatannya halal. Akan tetapi itu hanya
menurut dari makanan yang saya pesan. Karena saya memesan chiken jadi saya bisa
mengatakan kalau itu halal. Kemudian untuk para pelayannya, sepengetahuan saya
ada 4 wanita yang bertugas di bagian depan. Saya kira bahwa pada saat itu
adalah pergantian shift, karena biasanya pelayan bagian depan hanya 2 orang
saja. Untuk penampilanan para pelayannya, saya akui memang sangat menarik akan
tetapi sangat jelek menurut pandangan Islam karena mereka tidak berhijab dan
mereka memakai rok yang panjangnya tidak samapai ke lutut sehingga sangat
terlihat jelas aurat pada bagian paha. Dan menurut Islam itu sangat tidak
diperbolehkan. Mereka memang ramah dalam melayani pelanggan, akan tetapi tidak
sopan dalam agama Islam.
Cukup lama kami
disitu sambil menikmati hidangan dan mengamati hal hal apa saja yang ada di
café tersebut yang bisa diamati. Susananya memang sangat sejuk dan sangat
nyaman apabila dijadikan sebagai tempat untuk mengerjakan tugas, rapat, ataupun
bisa juga dijadikan sebagai tempat untuk pertemuan seperti pertemuan keluarga
dan saudara. Akan tetapi, memang kurang pas apabila untuk acara keluarga
seperti arisan karena menu nya yang harganya cukup mahal.
Pada waktu itu,
saya merasa kaget setelah melihat nota atau bill karena harganya yang tidak
sesuai dengan makanan yang saya pesan yang ada di daftar menu. Ketika itu di
daftar menu dituliskan bahwa harga chicken katsu bento yang saya pesan itu
tertulis seharga 28k atau sama dengan dua puluh delapan ribu rupiah. Akan
tetapi, setelah selesai makan dan saat pembayaran, di nota harga chicken katsu
bento tidak 28k melainkan 42k atau sama dengan empat puluh dua ribu rupiah.
Disitu kemudian saya merasa sangat kecewa. Tapi tidak apalah, saya juga tidak
protes atau bertanya mengapa bisa demikian. Karena kata teman saya, jenis
chicken katsu bento juga tidak hanya satu, mungkin memang iya ada yang harganya
28k akan tetapi pelayannya membuatkan yang harga 42k sedangkan saya memesan
yang 28k.
Setelah cukup
lama kami makan dan mengamati café tersebut, kami bertiga pun bersiap-siap
untuk pulang ke tempat tinggal kami masing-masing. Mereka, Faisal dan Tomi
mungkin pulang dengan rasa kegembiraan sedangkan saya pulang dengan rasa
sedikit sedih dan sangat kecewa karena pesanan yang salah tadi. Biasanya, jika
di warung yang normal seperti mie ayam, bakso ataupun nasi sayur, saya protes
jika ada makanan yang salah. Akan tetapi, tidak tahu kenapa pada kunjungan di
café kemarin saya tidak protes karena makanan yang salah pesan. Kami bertiga
pulang dari Hikaru Dining sekitar pukul tiga sore dan pada saat itu cuacanya
sangat cerah, tidak hujan dan tidak panas sekali.
Pengalaman saya
setelah menikmati hidangan di Hikari Dining adalah biasa biasa saja tetapi
sangat menguras dompet. Makanannya rasanya biasa saja dan bahkan malah tidak
lebih enak dari warung makan biasa seperti warung makan sambel layah ataupun
warung makan ayam geprek. Karena dulu saya pernah bekerja di kedua warung makan
tersebut dan jika dilihat dari rasa dan tampilannya, makanan makanan yang ada
di warung makan sambel layah dan ayam geprek justru malah jauh lebih enak
daripada yang ada di Hikaru Dining. Hanya saja, memang terlihat lebih bersih
dan nyaman jika kita makan di Hikaru Dining. Karena letak Bangunan Hikaru
Dining juga berada di dalam Mall dan memang sudah di desain untuk mayoritas
orang yang memiliki uang lebih sehingga tidak heran jika harganya terkesan
mahal. Tetapi itu hanya pendapat saya saja.
Kemudian untuk
fenomena fenomena menurut nilai nilai Islam yang telah terjadi dan telah saya
observasi di café tersebut selama saya menikmati hidangan di situ adalah
pelayannya kurang sopan karena berpakainan tidak menutup aurat dan itu dilarang
dalam hal agama. Menurut saya sebenarnya wajar saja jika pelayannya
berpenampilan seperti itu karena memang café ini juga dari Jepang. Akan tetapi
menurut aturan agama Islam tetap saja tidak diperbolehkan.
Namun yang cukup
saya saluti adalah di café tersebut tidak ada orang berpacaran atau mesra-mesraan
seperti layaknya café-café di kota besar di Indonesia. Mungkin memang karena
pas jam siang, kalau malam jika kita masih mau melakukan observasi lagi,
kemungkinan bisa saja ada orang yang mesra mesraan. Pada saat itu selama kami
bertiga di café tersebut, hanya ada satu orang wanita di sebelah kami dan dua
orang wanita di tempat duduk yang cukup jauh dari kami bertiga. Dan mereka pun
kelihatannya santai sekali dan sangat menikmati suasana di café tersebut.
Sebelum satu wanita disebelah kami, sebelumnya kursi itu ditempati oleh seorang
bapak, jika melihat dari tampilannya, beliau adalah seorang pengusaha kaya yang
sedang merasa bosan sehingga berkunjung di sebuah café untuk bersantai karena
mungkin setelah lelah memikirkan pekerjaan.
Sebetulnya jika
café-café tersebut kebanyakan mayoritas pelanggannya adalah bukan orang-orang
Muslim melainkan banyak dari golongan non Muslim terutama orang-orang beragama
Kristen Khatolik. Jika dikaitkan dengan mata kuliah Metodologi Studi Islam,
awalnya saya pikir bahwa tidak ada kaitannya sama sekali dengan mata kuliah
tersebut. Akan tetapi, setelah dilakukan observasi ke café-café semacam itu,
justru malah erat kaitannya dengan mata kuliah Metodologi Studi Islam karena
banyaknya hal hal yang bisa di teliti dan telaah erat kaitannya dengan
aturan-aturan Agama Islam dan hal-hal yang menyimpang dengan ajaran agama Islam
yang ada di café tersebut. Maka dari itu, kita terutama diri saya sendiri tidak
boleh berpikiran sempit dan harus berpikir luas sebelum memberikan penilaian terhadap
hal apapun itu, agar kita menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam segala
hal.
Kesimpulannya
adalah memakan makanan yang ada di café-café mewah memang sangat mengurs
dompet, apalagi bagi orang yang kekayaannya bisa dikatakan menengah kebawah,
saya sarankan untuk makan di warung biasa saja atau lebih baik memasak di rumah
sendiri. Sesekali boleh mencicip masakan di café-café mewah tapi jangan sampai
keterusan. Kemudian pandangan saya mengenai nilai-nilai keislaman di café
tersebut hanyalah terletak pada makanannya yang halal saja. Demikian lah yang
dapat saya tuliskan berdasarkan data dan pemahaman saya setelah melakukan
kunjungan di Hikaru Dining kemarin. Sekian dan terimakasih.
Lampiran







