Rabu, 14 Februari 2018

MSI WAHYU


Nama   : Wahyu Aji Galih Muslim
NIM    : 175231074
Kelas   : PBS 2B


Penulis
Aris Widodo, M.A

Judul Buku
METODOLOGI STUDI ISLAM
Ilustrasi Kajian Islam Ranah Normatif dan Empiris

Penerbit
CV. Hidayah
Jl. Nagan Lor no. 14 Yogyakarta 55133

Tahun Terbit
2014



Resume Buku METODOLOGI STUDI ISLAM

            Metodologi berasal dari dua kata yaitu methodos dan logos. Methodos mempunyai arti cara yang berkaitan dengan upaya menyelesaikan sesuatu. Sedangkan logos sendiri mempunyai arti wawasan. Jika digabung menjadi kata metodologi. Metodologi adalah cara-cara yang berlaku dalam penelitian. Selanjutnya, studi islam disini maksudnya ilmu yang membahas tentang keagamaan. Jadi, metodologi studi islam adalah ilmu yang membahas seputar keislaman dan metode-metode dalam islam tersebut.
Nabi Muhammad SAW membawa agama islam yang di yakini dapat membuat kehidupan manusia menjadi sejahtera lahir dan batin. Agama tersebut terdapat petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang mempelajari dan memahami petunjuk-petunjuk tersebut kehidupannya menjadi berkah di dunia dan di akhirat. Dan bagi manusia yang tidak mempelajari dan memahami, maka kehidupan di dunia dan akhirat akan sengsara. Dalam islam terdapat sumber ajaran utama yaitu Al Quran dan Al Sunnah.

Sisi Filosofis Al-Qur’an dan Beberapa Kisah Ilustrasi
Al-Qur’an telah banyak menerapkan prinsip-prinsip logika dalam berbagai pokok-pokok permasalahan, misalnya ketika berbicara tentang Tuhan. Ketika membawa perenungan tentang Tuhan, kitab suci umat Islam ini tidak memberikan definisi secara langsung apa itu Tuhan. Yang diberikan Al Qur’an adalah menggambarkan beberapa karakteristik yang berkenaan dengan-Nya.
Al Qur’an banyak menyodorkan bahan-baku yang bisa menjadi titik-tolak perenungan filosofis. Bahan baku yang disodorka tersebut diantaranya diilustrasikan melalui kisah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman. Berkaitan dengan kosmologi, Al Qur’an banyak menyodorkan proposisi-proposisi yang bersifat saintifik. Misalnya mengenai masalah bagaimana alam semesta ini lahir dan apakah alam semesta itu bersifat statis ataukah mengembang.
Salah satu persoalan utama Al Qur’an dalam etika adalah apa yang sesungguhnya menggerakkan manusia untuk melakukan aktivitas; apa motivasi dasar mereka, dan apa yang mereka kejar? Untuk memulai pembahasan filosofis mengenai persoalan ini kita bisa mengambil beberapa ilustrasi Al Qur’an mengenai karakteristik orang munafik dan orang beriman. Mengapa orang munafik berdiri dengan malas sementara orang beriman melakukan shalat dengan penuh kekhusukan.
Sebuah Artikulasi Filosofis-Qur’ani dalam Tauhid Sosial sebagai Basis Pendidikan Islam
Al-Qur’an memberi ilustrasi mengenai sebuah pohon realitas, baik realitas kebaikan maupun realitas keburukan. Kita bisa mengetahui bahwa tauhid merupakan pintu gerbang masuknya orang ke dalam agama Islam, yang juga merupakan sebuah pohon kebaikan. Sementara syirik dan kufur merupakan pohon realitas yang buruk. Dengan demikian, ketika kita berbicara mengenai pendidikan Islam, yang merupakan salah satu cabang dari pohon kebaikan, harusnya kita bisa menjadikan tauhid sebagai paradigmanya.
Mengenai perluasan cakupan kesalehan, ada sebagian masyarakat Muslim yang mengukur kesalehan dari dimensi vertikal saja. Seseorang dikatakan saleh misalnya, shalatnya bagus, sering puasa, dan haji berkali kali. Namun dari segi lain, dalam kaitannya dengan dimensi horisontal, orang tersebut masih sering merugikan orang lain dalam mu’amalahnya. Inilah yang kemudian mengilhami pemikir-pemikir diatas untuk mengusahakan bagaimana agar dimensi vertikal bisa saling berkaitan dengan dimensi horisontal.
Kemudian sebagai basis pendidikan Islam, sumber pengetahuan manusia dengan berbagai perantaranya adalah Tuhan. Maka kita bisa menyatakan bahwa sumber dari pendidikan Islam juga tauhid, karena semuanya merujuk kepada satu Tuhan. Dengan demikian, pendidikan Islam mesti melakukan imitasi dalam hal ini, yaitu menjadikan tauhid yang berdimensi sosial sebagai paradigmanya.

Sebuah Konsep Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an
Setelah Perang Dunia kedua, kondisi ekonomi di Eropa yang mulai membaik memberi angin segar bagi maraknya gerakan fenimisme radikal, yang menuntut terbukanya peluang karier yang seluas-luasnya bagi perempuan. Melalui gerakan fenimisme radikal ini, berkembang isu-isu penentangan terhadap “seksisme” (diskriminasi berdasar jenis kelamin) dan “patriarkhi” (dominasi pria pada wanita). Isu isu seperti ini sekarang banyak mengilhami para pemikir Muslim Indonesia untuk memakai perspektif ini dalam meneropong ajaran-ajaran Islam, seperti tampak dalam tulisan Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia.
Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia mengemukakan bahwa posisi laki laki dan perempuan adalah setara, yakni sebagai hamba Allah. Seorang intelektual asal Iran, Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa Al-Qur’an sudah menggariskan posisi laki-laki dan perempuan dalam kedudukannya masing-masing secara proporsional. Muthahhari menulis, “wanita dan pria adalah sama-sama manusia dan keduanya mendapatkan hak yang sama dan setara”.

Apresiasi atas Pemikiran Agus Mustofa tentang Teka-teki Kekekalan Akhirat
Dalam upayanya untuk “menghidupkan” corak keberagamaan, Agus Mustofa mengajak umat Islam untuk menganalisa dan mendiskusikan informasi-informasi Al-Qur’an dengan bantuan teori-teori ilmiah dari sains modern sekarang ini. Maka di bukunya yang berjudul Ternyata Akhirat tidak Kekal, Agus Mustofa selalu berupaya menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan temuan-temuan sains modern.
Dari hasil peneropongannya tentang akhirat, Agus Mustofa menyimpulkan bahwa semua kehidupan manusia, baik di dunia sekarang ini maupun di akhirat nanti, akan dijalani di bumi. Dengan demikian, kehidupan syurga dan neraka yang merupakan fase kehidupan di akhirat juga dijalani di bumi. Oleh karena bumi tersebut suatu saat akan mengalami kehancuran, maka konsekuensinya, akhirat pun juga akan lenyap.
Tesis yang dikemukakan Agus Mustofa itu memiliki sisi kuat dan sisi lemah. Berkaitan dengan tidak-kekal-nya akhirat, Agus Mustofa menyatakan bahwa akhirat terlaksana sesudah kiamat bumi, dan kehidupan akhirat akan berakhir dengan terjadinya kiamat semesta. Meskipun dari sisi tidak-kekal-nya akhirat bisa saja diterima, karena yang kekal hanyalah Allah, namun cara berakhirnya akhirat tersebut tidak bisa diterima, mengingat yang disebut kiamat semesta bersamaan terjadinya dengan kiamat bumi.

Tunjauan Filsafat Hukum Islam dalam Khazanah Ritual Islam
Al-Qur’an menginformasikan bahwa semua manusia diciptakan dengan fitrah Allah. Di antara akhlaq Allah adalah Ar-Rahman yang berarti maha pengasih dan Ar-Rahim yang berarti maha penyayang. Dengan berpuasa, seseorang dapat membangkitkan perasaan simpati kepada fakir miskin, karena dengan berpuasa kita bisa merasakan sendiri bagaimana rasa menderitanya mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan adanya puasa yaitu, agar kita mensyukuri apa yang telah kita miliki.
Berzakat, selain bermakna mensucikan, juga berarti mensuburkan. Jadi, zakat fitrah merupakan simbol telah tumbuh suburnya fitrah, yaitu sifat rahmah (kasih sayang) dalam diri orang yang berpuasa, berupa perasaan simpati terhadap kaum papa dan kemudian mengulurkan tangan untuk membantu mereka. Inilah yang dalam bahasa modern disebut sebagai filantropi (kedermawanan).



Lampiran







Tidak ada komentar:

Posting Komentar