Nama : Wahyu Aji Galih Muslim
NIM : 175231074
Kelas : PBS 2B
Penulis
Aris
Widodo, M.A
Judul Buku
METODOLOGI
STUDI ISLAM
Ilustrasi
Kajian Islam Ranah Normatif dan Empiris
Penerbit
CV.
Hidayah
Jl.
Nagan Lor no. 14 Yogyakarta 55133
Tahun Terbit
2014
Resume
Buku METODOLOGI STUDI ISLAM
Metodologi
berasal dari dua kata yaitu methodos dan logos. Methodos mempunyai arti cara
yang berkaitan dengan upaya menyelesaikan sesuatu. Sedangkan logos sendiri
mempunyai arti wawasan.
Jika digabung menjadi kata metodologi. Metodologi adalah cara-cara yang berlaku
dalam penelitian. Selanjutnya, studi islam disini maksudnya ilmu yang membahas
tentang keagamaan. Jadi, metodologi studi islam adalah ilmu yang membahas
seputar keislaman dan metode-metode dalam islam tersebut.
Nabi Muhammad
SAW membawa agama islam yang di yakini dapat membuat kehidupan manusia menjadi
sejahtera lahir dan batin. Agama tersebut terdapat petunjuk-petunjuk bagi
manusia dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang mempelajari dan memahami
petunjuk-petunjuk tersebut kehidupannya menjadi berkah di dunia dan di akhirat. Dan bagi
manusia yang tidak mempelajari dan memahami, maka kehidupan di dunia dan
akhirat akan sengsara. Dalam islam terdapat sumber ajaran utama yaitu Al Qur’an dan Al Sunnah.
Sisi Filosofis Al-Qur’an dan
Beberapa Kisah Ilustrasi
Al-Qur’an telah banyak menerapkan prinsip-prinsip
logika dalam berbagai pokok-pokok permasalahan, misalnya ketika berbicara
tentang Tuhan. Ketika membawa perenungan tentang Tuhan, kitab suci umat Islam
ini tidak memberikan definisi secara langsung apa itu Tuhan. Yang diberikan Al Qur’an
adalah menggambarkan beberapa karakteristik yang berkenaan dengan-Nya.
Al Qur’an banyak menyodorkan bahan-baku yang bisa
menjadi titik-tolak perenungan filosofis. Bahan baku yang disodorka tersebut
diantaranya diilustrasikan melalui kisah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman. Berkaitan
dengan kosmologi, Al Qur’an banyak menyodorkan proposisi-proposisi yang
bersifat saintifik. Misalnya mengenai masalah bagaimana alam semesta ini lahir
dan apakah alam semesta itu bersifat statis ataukah mengembang.
Salah satu persoalan utama Al Qur’an dalam etika
adalah apa yang sesungguhnya menggerakkan manusia untuk melakukan aktivitas;
apa motivasi dasar mereka, dan apa yang mereka kejar? Untuk memulai pembahasan
filosofis mengenai persoalan ini kita bisa mengambil beberapa ilustrasi Al Qur’an
mengenai karakteristik orang munafik dan orang beriman. Mengapa
orang munafik berdiri dengan malas sementara orang beriman melakukan shalat
dengan penuh kekhusukan.
Sebuah
Artikulasi Filosofis-Qur’ani dalam Tauhid Sosial sebagai Basis Pendidikan Islam
Al-Qur’an memberi ilustrasi mengenai sebuah pohon
realitas, baik realitas kebaikan maupun realitas keburukan. Kita bisa
mengetahui bahwa tauhid merupakan pintu gerbang masuknya orang ke dalam agama
Islam, yang juga merupakan sebuah pohon kebaikan. Sementara syirik dan kufur
merupakan pohon realitas yang buruk. Dengan demikian, ketika kita berbicara
mengenai pendidikan Islam, yang merupakan salah satu cabang dari pohon
kebaikan, harusnya kita bisa menjadikan tauhid sebagai paradigmanya.
Mengenai perluasan cakupan kesalehan, ada
sebagian masyarakat Muslim yang mengukur kesalehan dari dimensi vertikal saja.
Seseorang dikatakan saleh misalnya, shalatnya bagus, sering puasa, dan haji
berkali kali. Namun dari segi lain, dalam kaitannya dengan dimensi horisontal,
orang tersebut masih sering merugikan orang lain dalam mu’amalahnya. Inilah
yang kemudian mengilhami pemikir-pemikir diatas untuk mengusahakan bagaimana
agar dimensi vertikal bisa saling berkaitan dengan dimensi horisontal.
Kemudian sebagai basis pendidikan Islam, sumber
pengetahuan manusia dengan berbagai perantaranya adalah Tuhan. Maka kita bisa
menyatakan bahwa sumber dari pendidikan Islam juga tauhid, karena semuanya
merujuk kepada satu Tuhan. Dengan demikian, pendidikan Islam mesti melakukan
imitasi dalam hal ini, yaitu menjadikan tauhid yang berdimensi sosial sebagai
paradigmanya.
Sebuah Konsep Kesetaraan
Gender dalam Al-Qur’an
Setelah Perang Dunia kedua, kondisi ekonomi di Eropa
yang mulai membaik memberi angin segar bagi maraknya gerakan fenimisme radikal,
yang menuntut terbukanya peluang karier yang seluas-luasnya bagi perempuan.
Melalui gerakan fenimisme radikal ini, berkembang isu-isu penentangan terhadap
“seksisme” (diskriminasi berdasar jenis kelamin) dan “patriarkhi” (dominasi
pria pada wanita). Isu isu seperti ini sekarang banyak mengilhami para pemikir
Muslim Indonesia untuk memakai perspektif ini dalam meneropong ajaran-ajaran
Islam, seperti tampak dalam tulisan Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia.
Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia mengemukakan
bahwa posisi laki laki dan perempuan adalah setara, yakni sebagai hamba Allah. Seorang
intelektual asal Iran, Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa Al-Qur’an sudah
menggariskan posisi laki-laki dan perempuan dalam kedudukannya masing-masing
secara proporsional. Muthahhari menulis, “wanita dan pria adalah sama-sama
manusia dan keduanya mendapatkan hak yang sama dan setara”.
Apresiasi
atas Pemikiran Agus Mustofa tentang Teka-teki Kekekalan Akhirat
Dalam upayanya untuk “menghidupkan” corak
keberagamaan, Agus Mustofa mengajak umat Islam untuk menganalisa dan
mendiskusikan informasi-informasi Al-Qur’an dengan bantuan teori-teori ilmiah
dari sains modern sekarang ini. Maka di bukunya yang berjudul Ternyata Akhirat
tidak Kekal, Agus Mustofa selalu berupaya menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an
dengan temuan-temuan sains modern.
Dari hasil peneropongannya tentang akhirat, Agus
Mustofa menyimpulkan bahwa semua kehidupan manusia, baik di dunia sekarang ini
maupun di akhirat nanti, akan dijalani di bumi. Dengan demikian, kehidupan
syurga dan neraka yang merupakan fase kehidupan di akhirat juga dijalani di
bumi. Oleh karena bumi tersebut suatu saat akan mengalami kehancuran, maka
konsekuensinya, akhirat pun juga akan lenyap.
Tesis yang dikemukakan Agus Mustofa itu memiliki sisi
kuat dan sisi lemah. Berkaitan dengan tidak-kekal-nya akhirat, Agus Mustofa
menyatakan bahwa akhirat terlaksana sesudah kiamat bumi, dan kehidupan akhirat
akan berakhir dengan terjadinya kiamat semesta. Meskipun dari sisi
tidak-kekal-nya akhirat bisa saja diterima, karena yang kekal hanyalah Allah,
namun cara berakhirnya akhirat tersebut tidak bisa diterima, mengingat yang
disebut kiamat semesta bersamaan terjadinya dengan kiamat bumi.
Tunjauan
Filsafat Hukum Islam dalam Khazanah Ritual Islam
Al-Qur’an menginformasikan bahwa semua manusia diciptakan
dengan fitrah Allah. Di antara akhlaq Allah adalah Ar-Rahman yang berarti maha pengasih dan Ar-Rahim
yang berarti maha penyayang. Dengan
berpuasa, seseorang dapat membangkitkan perasaan simpati kepada fakir miskin, karena dengan
berpuasa kita bisa merasakan sendiri bagaimana rasa
menderitanya mereka yang
tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan
adanya puasa yaitu, agar kita mensyukuri apa yang telah kita miliki.
Berzakat, selain bermakna mensucikan, juga berarti mensuburkan.
Jadi, zakat fitrah merupakan simbol telah tumbuh suburnya fitrah, yaitu sifat rahmah (kasih sayang) dalam diri orang
yang berpuasa, berupa perasaan simpati terhadap kaum papa dan kemudian
mengulurkan tangan untuk membantu mereka. Inilah yang dalam bahasa modern
disebut sebagai filantropi (kedermawanan).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar