Nama : Wahyu
Aji Galih Muslim
Kelas : PBS 2B
NIM :
175231074
Live In Pondok Pesantren Imam Syuhodo
Awal cerita ketika saya dapat tugas untuk live in atau
tinggal di salah satu pondok pesantren yang ada di kota Sragen atau Sukoharjo.
Pilih salah satu pondok yang ada di kedua kota tersebut. Ketika mendapat tugas
ini, awalnya saya berfikir begini “waduh tugasnya kok begini sih?” Jujur saja
sebenarnya saya kurang nyaman dengan tugas live in seperti ini apalagi ini di
pondok pesantren. Entah mengapa saya tidak nyaman dengan tugas seperti ini saya
sendiri juga tidak mengerti. Tapi mau tidak mau, dengan rasa berat hati saya
terpaksa harus melakukannya. Karena model pengajaran di tempat kuliah saya ini
yaitu IAIN Surakarta adalah model paketan dan sudah ditentukan kelasnya, maka dalam
melaksanakan tugas ini, saya melakukan pencarian pondok pesantren bersama dua
teman laki-laki sekelas saya, sebut saja namanya Faisal dan Tomi.
Pada hari pencarian pondok pesantren pertama, kami
bertiga sebenarnya sudah mendapatkan pondok pesantren yang sebetulnya bisa
untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Akan tetapi, diantara kami ada yang
tidak setuju jika pondok pesantren tersebut dijadikan sebagai objek penelitian.
Terjadilah perdebatan, alhasil kami pun mencari podok pesantren lain untuk
dijadikan sebagai objek penelitian. Dalam melakukan pencarian pondok pesantren
ini, kami bertiga melakukannya dengan menggunakan aplikasi google maps sebagai
petunjuk arah dan google sebagai pencari daftar pondok pesantren yang ada di
Sukoharjo. Oh iya dalam pencarian pondok pesantren, kami bertiga hanya
mencarinya di kota Sukoharjo saja dan Alhamdulillah dapat.
Kami mendatangi pondok pesantren Darud Da’wah, pondok
pesantren ini adalah yang pertama kami kunjungi. Kami tiba disana sekitar jam
setengah 12 siang, tepat sebelum waktu dzuhur. Kami bertanya-tanya kepada
santri yang ada disana, tiba waktu adzan dzuhur, kami pun melaksanakan sholat
dzuhur disana. Setelah sholat dzuhur, kami mencoba untuk bertanya kepada Pak
Ustad yang tadi mengimami sholat dzuhur. Kami bertanya dan meminta izin apakah
kami boleh untuk melakukan observasi disini atau tidak. Akan tetapi, Pak Ustad
yang mengimami sholat dzuhur tadi, tidak berani mengambil keputusan untuk
mengizinkan kami untuk melakukan observasi karena beliua bukan pimpinan pondok
pesantren ini. Kami disuruh menemui pimpinannya langsung. Dan kamipun akhirnya
menuju ke ruangan pimpinan pondok pesantren ini. Namun Kepala pondoknya sedang
pergi dan kata santrinya beliau pulangnya mungkin malam nanti. Alhasil kami
berbincang bincang dulu dengan Pak Ustad yang lainnya, disitu kami berkenalan
dan basa basi. Karena Pemimpin pondoknya sedang pergi, kami akhirnya kami
bertukar nomor telepon dan diberikan no telepon pemimpin pondok untuk membahas
perizinan itu.
Pada hari berikutnya sesuai dengan permintaan Pak
Ustad yang ada di pondok pesantren tadi, kami menghubungi pemimpin pondok pesantren
tersebut. Namun ketika kami menghubungi pemimpin pondok pesantren tersebut
tidak ada respon sedikit pun. Karena hal itu, kami pun berencana untuk mencari
pondok pesantren yang lainnya saja. Karena pada hari pertama belum mendapatkan
pondok pesantren yang cocok, kami pun memutuskan untuk melanjutkan pencarian
pondok pesantren pada hari yang lainnya saja. Di hari berikutnya, kami
menemukan pondok pesantren Imam Syuhodo di desa Wonorejo kecamatan Polokarto
kabupaten Sukoharjo. Kami tiba disana sore hari sekitar jam setengah empatan,
disana kami perkenalana, kemudian berbincang-bincang dan tidak lupa untuk
menyampaikan maksud dan tujuan kami dating ke pondok pesantren tersebut.
Alhasil kami diizinkan untuk melakukan observasi dan live in di pondok pesantren
tersebut.
Di hari berikutnya tepat jam 9 pagi sesuai perjanjian,
kami datang lagi ke pondok tersebut dengan membawa surat izin dan barang barang
perlengkapan kami untuk live in di pondok pesantren tersebut. Surat izin
diserahkan, kemudian kami memulai live in di pondok pesantren tersebut. Ketika
kami sampai di pondok pesantren tersebut, para santrinya sedang sekolah, akan
tetapi ada juga yang pulang awal sekitar setengah 10 sudah selesai sekolah
karena sedang ada latian ujian nasional untuk kelas 3 smp dan sma.
Setelah istirahat beberapa menit, kami langsung
memulai penelitian ke ruang kelas, kami mengamati proses pembelajaran di dalam
kelas. Dalam melakukan pengamatan, kami meminta izin untuk memasuki ruangan
kelas dan diizinkan. Ternyata pembelajarannya sama saja dengan waktu saya
sekolah dulu, hanya saja lebih banyak agamanya disini. Sewaktu kami memasuki
kelas yang tidak ada gurunya, kebanyakan dari siswa disana menggunakan jam
kosong untuk membaca Al-Qur’an. Namun ada juga yang bermain main, ya wajar saja
lah namanya juga anak manusia pasti begitu.
Setelah selesai menagamati di dalam kelas, kami balik
lagi ke kamar para santri. Di dalam kamar para santri kami saling berkenalan
sambil mengamati bagaimana cara bergaul mereka. Dan ternyata anak anak pondok
pesantren sama saja dengan anak anak pada umumnya, mereka sama sama rame, enak
diajak bicara, dan tidak minim tentang dunia luar. Bahkan malah santri di
pondok sebenarnya lebih beruntung karena mereka lebih tau tentang agama dan
tata karma terhadapa orang tua.
Medengar suara adzan, kami bersama-sama para santri
bergegas menuju masjid di pondok pesantren tersebut untuk melaksanakan sholat
dzuhur. Tiba di masjid, kami langsung berwudhu dan siap siap masuk ke masjid
untuk melaksanakan sholat dzuhur. Uniknya di pondok pesantren ini, setelah
adzan dan sambil menunggu waktu iqomah, para santri membaca Al-qur’an dan kami
pun ikut membaca Al-qur’an. Akan tetapi, hanya kebanyakan saja yang membaca
Al-qur’an, ada beberapa yang hanya duduk diam untuk menunggu iqomah.
Setelah selesai sholat dzuhur, para santri di pondok
pesantren ini, berdzikir sebentar kemudian mereka membaca Al-qur’an, ada yang
membacanya melingkar di area masjid dan ada juga yang membacanya di dalam
kamar. Al-qur-an yang dibaca adalah Al-Qur’an yang sama dengan yang sering kita
baca. Tidak hanya membaca saja, kebanyakan dari merek juga menghafal Al-Qur’an,
ada yang sudah bisa menghafal 10 juz da nada juga yang baru hafal 1,2 juz saja.
1 atau 20 juz itu tidak masalah, yang penting ada niat untuk menghafal Al-Qur’an,
yang masalah itu yang tidak menghafal.
Kemudian sekitar dari jam setengah dua sampai azhar
adalah waktunya makan dan istirahat bagi santri, kalau dilingkungan pondok
pesantren sering disebut dengan waktu bebas. Di waktu ini kami hanya mengamati
para santri makan, makannya mengambil di pondok da nada jatah makan sendiri
dari pondok, artinya sudah ditentukan oleh pihak pondok pesantren tersebut.
Kalau ngambil makanannya bebas akan tetapi yang ditentukan adalah waktu
makannya bukan porsi batasan makanan. Setelah selesai makan, para santri
beristirahat, ada yang tidur, ada juga yang bermain main da nada juga yang
bersantai sambil menunggu dating waktu azhar.
Tiba waktu azhar, para santri bersiap siap menuju ke
masjid untuk melaksanakan sholat azhar. Cara santri menunggu iqomah masih sama
seperti waktu dzuhur dan setiap sholat wajib juga seperti ini. Untuk yang adzan
adalah para santri dan bergantian sudah dijadwal. Yang membedakan adalah
kegiatan setelah sholat azhar dan sholat dzuhur berbeda sedikit, kalau setelah
sholat azhar ada tambahan setoran hafalan. Proses kegiatan ini adalah ada satu
ustad dikelilingi beberapa santri atau puluhan santri. Para santri menyetorkan
hafalan mereka, yang dihafalkan adalah surat Al-Qur’an atau Juznya. Di dalam
proses ini memakan waktu yang cukup lama hingga selesai sampai sekitar jam
setengah limanan.
Setelah para santri sudah selesai hafalan semua, kami
berbincang bincang dengan Bapak Ustad Fatonah, beliau adalah salah satu penerus
pendiri pondok pesantren Imam Syuhodo tersebut. Banyak hal yang kami bicarakan,
kalau ditulis disini mungkin tidak cukup sepuluh halaman hanya untuk menuliskan
hal hal yang kami bicarakana tapi apabila dijabarkan. Kami berbincang bincang
dengan Bapak Ustad Fatonah sampai menjelang waktu maghrib karena beliau ada
sebuah kebiasaan membunyikan lonceng peringatan kepada para santri untuk
bersiap siap sholat maghrib.
Sudah adzan maghrib dan kegiatan sebelum sholat tetap
sama. Setelah sholat maghrib, kegiatan tadarus dan hafalan biasa saja karena
antara waktu maghrib ke isyak sangat dekat sekali. Kemudian memasuki waktu
sholat isyak, kami dan para santri berwudhu kembali dan bersiap untuk
melaksanakan sholat isyak. Sambil menunggu iqomah, kami dan para santri
bertadarus sebentar. Kemudian setelah sholat isyak ada banyak kegiatan antara
lain, tilawah dari santri di dalam masjid, ceramah dari Bapak Ustad Fatonah di
dalam masjid dan kemudian latihan pidato bagi para santri di area pondok
pesantren, artinya bahwa latihan pidato tidak dilakukan didalam masjid.
Yang pertama adalah tilawah dari santri, kegiatan ini
dilakukan dengan proses seorang santri maju ke mimbar untuk bertilawah, setiap
hari berganti santri. Tilawah yang dibacakan juga bebas dan waktunya juga tidak
lama, paling hanya sekitar lima sampai sepuluh menit saja. Diatas mimbar
seorang santri bertiwalah membacakan ayat ayat Al-Qur’an dengan suara yang
merdu, dan karena saya dulunya juga pernah belajar tilawah, jadi saya bisa
menilai bagaimana tilawah itu bagus atau kurang baik.
Setelah tilawah selesai, kemudian dilanjutkan dengan
ceramah oleh Bapak Ustad Fatonah. Ceramahnya tidak dilakukan diatas mimbar
melainkan dengan bantuan sebuah kursi yang lain dan diletakan didepan hadapan
para santri. Dalam ceramahnya waktu itu, beliau menyampaikan sebuah pidato yang
sangat bermanfaat dengan tema yang sebetulnya saya sendiri kurang mengetahui
tetapi mengerti sedikit sedikit tentang isinya. Yaitu menjelaskan tentang tata
krama dan sikap sikap yang harus dipenuhi atau dijalani oleh para santri. Sekitar
dua puluh menitan, ceramah yang disampaikan oleh Bapak Ustad Fatonah pun
berakhir.
Memasuki jam delapan lebih sepuluh menit, kini saatnya
para santri kembali ke kamarnya masing masing dan bersiap siap untuk berkumpul
di lapangan. Para santri dikasih waktu sekitar lima sampai sepuluh menit untuk
persiapan dan kemudian berkumpul di lapangan samping masjid. Dilapangan, para
santri berkumpul untuk menerima sebuah pengarah untuk latihan pidota sekalian
pembagian kelompok pidato. Setiap kelompok ada delapan sampai sepuluh santri,
dan mereka dibagi bagi tugasnya. Kegiatan latihan pidato ini dilakukan hanya
setiap malam jum’at saja. Di malam malam yang lain juga ada kegiatan kegiatan
yang lainnya.
Dalam kegiatan berpidato ini dilakukan sampai jam
sembilan dan setelah jam sembilan, para santri berkumpul lagi di lapangan
samping masjid untuk absen malam dan persiapan untuk kegiatan besok pagi yaitu
jalan sehat dari pagi sampai sebelum dzuhur. Setelah absen dan pengarahan
selesai, para santri kemudian diperbolehkan untuk istirahat dan tidur malam.
Jam tiga pagi, para santri dibangunkan untuk sholat
tahajud. Ada yang bangun da nada juga yang tetap tidur sampai subuh baru
bangun. Menjelang waktu subuh, kini saatnya bagi pengurus pondok pesantren
untuk beraksi menguprak uprak para santri yang belum bangun. Pengurus pondok
tersebut adalah santri juga namun, mereka adalah kelas tiga smp dan sma. Yang
sudah diuprak uprak tapi tetap belum bangun, para santri tersebut akan disiram
air yang cukup dingin. Menyedihkan sekali memang. Setelah itu santri ada yang
mandi da nada juga yang bersiap siap untuk ke masjid melaksanakan sholat subuh.
Setelah sholat subuh, tadarus sebentar dan kemudian
para santri bersiap siap untuk berkumpul di lapangan untuk absen pagi dan
persiapan kegiatan jalan pagi. Para santri dikasih waktu dua puluh menit untuk
persiapan. Setelah semua santri sudah berkumpul dilapangan, pengurus santri
kemudian memberikan pengarahan dan pengecekan apakah santri sudah siap untuk
melaksanakan kegiatan ataukah belum. Setelah santri sudah siap semua,
berangkatlah mereka keluar dari lingkungan pondok pesantren dan melakukan
kegiatan jalan pagi. Mereka keluar dari lingkungan pondok sekitar jam enam
pagi. Karena sudah tidak ada lagi yang dapat kami observasi dari kegiatan para
santri, kami pun memutuskan untuk berpamitan. Kami pamit dan berbincang bincang
dulu dengan Bapak Ustad Fatonah. Pulanglah kami kembali ke asal dan keluar dari
pondok pesantren Imam Syuhodo sekitar jam setengah delapan pagi.
Itulah beberapa ringkasan singkat yang dapat saya
sampaikan berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan ketika saya di pondok
pesantren Imam Syohodo. Semoga bermanfaat bagi kalian semua para pembaca.
Ucapan terimakasih tak lupa saya ucapkan kepada Faisal dan Tomi teman saya
selama observasi, Bapak Ustad Fatonah selaku Pimpinan pondok pesantren Imam
Syuhodo, para kakak kakak pengurus pondok pesantren Imam Syuhodo, adik adik
santri Imam Syuhodo, dan tak lupa para pengurus pondok pesantren Imam Syuhodo
yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu. Sekali lagi terimakasih.
REFLEKSI
Saya sebagai mahasiswa Perbankan Syariah IAIN
Surakarta sangat terkesan dengan lingkungan di pondok pesantren. Banyak hal
yang saya dapatkan, banyak hal yang bisa saya jadikan sabagai pelajaran, dan
banyak hal yang bisa saya temui. Karena dibalik segala sesuatu pasti ada hikmah
yang terkandung didalamnya. Itulah beberapa catatan yang say dapatkan selama
live in di Pondok Pesantren Imam Syuhodo, semoga catatan kecil saya ini bisa
bermakna bagi kalian para pembaca. Sekian, semoga bermanfaat. Terimakasih..
Wassalamu’allaikum wr wb….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar