Selasa, 27 Maret 2018

INFLASI


Nama : Wahyu Aji Galih Muslim
Kelas  : PBS 2B
NIM     : 175231074

Inflasi Naik Maka Negara Hancur

Inflasi adalah suatu keadaan di mana terdapat kecenderungan kenaikan harga barang dan jasa secara umum serta berlangsung secara terus-menerus yang diakibatkan oleh ke tidak seimbangan arus barang dan uang dalam suatu perekonomian. Yang dimaksud dengan harga dalam pengertian di atas adalah harga dari semua kebutuhan masyarakat, sedangkan terus-menerus berarti semua kenaikan barang terjadi bukan hanya sekali, tetapi berulang-ulang.
Kenaikan harga suatu barang dan jasa bisa terjadi apabila permintaan banyak tetapi berbanding terbalik dengan penawaran atau ketersediaan barang dan jasa di pasar yang tetap atau bahkan menurun. Dengan demikian istilah inflasi hanya digunakan ketika kenaikan tingkat harga yang berlangsung secara terus menerus.
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun, inflasi sedang antara 10%—30% setahun, inflasi berat antara 30%—100% setahun, dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan dan desakan biaya produksi. Inflasi tarikan permintaan terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment.
Inflasi desakan biaya terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal yaitu, kenaikan harga misalnya naiknya harga bahan baku dan kenaikan upah/gaji misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi. Faktor pertama adalah tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa. Faktor kedua adalah tuntutan kenaikan upah dari pekerja. Faktor ketiga yaitu kenaikan harga barang impor. Faktor keempat adalah penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru. Dan faktor yang terakhir adalah kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998. Akibatnya angka inflasi mencapai 70%.
Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata “inflasi”? Pasti kalian memikirkan harga barang-barang yang meningkat kan? Kenapa ya, masyarakat cemas jika inflasi terjadi? Tahukah kamu, ternyata selain berdampak negatif, inflasi juga memiliki dampak positif juga lho.
Kedengarannya aneh ya, inflasi kok memberikan dampak positif? Bagi sebagian pihak, inflasi justru malah menguntungkan contohnya orang-orang yang mendapat untung dengan adanya inflasi antara lain para pengusaha yang mempunyai pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya produksinya. Jika harga barang naik (saat inflasi), produsen akan terdorong untuk meningkatkan jumlah barangnya. Peningkatan jumlah barang ini tentu akan meningkatkan penghasilan produsen. Apalagi kalau barang yang dijual merupakan kebutuhan pokok yang akan tetap dibeli orang banyak meskipun harganya naik.
Selanjutnya, kira-kira apa saja kah dampak negatif inflasi? Pertama adalah orang-orang yang berpenghasilan tetap, mereka yang mempunyai penghasilan tetap seperti PNS, pegawai swasta, polisi, tentara akan mendapatkan dampak buruk dari inflasi. Dengan adanya inflasi, harga-harga barang akan naik, sementara pendapatan yang mereka terima tidak ikut naik. Lebih jauh, ini berarti inflasi bisa menurunkan tingkat kesejahteraan rakyat karena daya belinya yang semakin rendah.
Kemudian dampak inflasi bagi perekonomian nasional. Dampak pertama yaitu dapat memperburuk distribusi pendapatan, jika dilihat secara keseluruhan dari sudut pandang negara, inflasi akan menguntungkan bagi mereka yang mempunyai tingkat pendapatan lebih besar daripada laju inflasinya. Akan tetapi, jumlah mereka sangat sedikit jika dibandingkan dengan orang-orang yang mengalami kerugian akibat inflasi. Oleh karena itu, pola pembagian pendapatan di suatu negara menjadi berat sebelah dan tidak merata. Dampak kedua adalah Terganggungnya stabilitas ekonomi Negara, tidak bisa dipungkiri bahwa inflasi akan menyebabkan terganggunya stabilitas ekonomi. Hal ini dikarenakan sewaktu terjadi inflasi, akan ada kemungkinan bahwa inflasi akan berlangsung terus menerus, yang berarti harga-harga akan terus naik. Oleh karena itu, para konsumen memutuskan untuk melakukan pembelian besar-besaran sebelum harga naik, yang menyebabkan permintaan meningkat. Di sisi lain, produsen akan menurunkan penawaran, karena proses penjualan ketika inflasi akan menyebabkan produsen mendapat keuntungan yang lebih besar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa naiknya permintaan dan menurunnya penawaran akan mempercepat laju inflasi. Hasilnya, kondisi ekonomi secara umum akan menjadi lebih buruk lagi.
Adapun solusi untuk mengendalikan inflasi yaitu bank sentral. Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen, salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian yang justru akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

Sabtu, 24 Maret 2018

The Story of Santri Wagu


Nama   : Wahyu Aji Galih Muslim
Kelas   : PBS 2B
NIM    : 175231074

Live In Pondok Pesantren Imam Syuhodo

Awal cerita ketika saya dapat tugas untuk live in atau tinggal di salah satu pondok pesantren yang ada di kota Sragen atau Sukoharjo. Pilih salah satu pondok yang ada di kedua kota tersebut. Ketika mendapat tugas ini, awalnya saya berfikir begini “waduh tugasnya kok begini sih?” Jujur saja sebenarnya saya kurang nyaman dengan tugas live in seperti ini apalagi ini di pondok pesantren. Entah mengapa saya tidak nyaman dengan tugas seperti ini saya sendiri juga tidak mengerti. Tapi mau tidak mau, dengan rasa berat hati saya terpaksa harus melakukannya. Karena model pengajaran di tempat kuliah saya ini yaitu IAIN Surakarta adalah model paketan dan sudah ditentukan kelasnya, maka dalam melaksanakan tugas ini, saya melakukan pencarian pondok pesantren bersama dua teman laki-laki sekelas saya, sebut saja namanya Faisal dan Tomi.
Pada hari pencarian pondok pesantren pertama, kami bertiga sebenarnya sudah mendapatkan pondok pesantren yang sebetulnya bisa untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Akan tetapi, diantara kami ada yang tidak setuju jika pondok pesantren tersebut dijadikan sebagai objek penelitian. Terjadilah perdebatan, alhasil kami pun mencari podok pesantren lain untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Dalam melakukan pencarian pondok pesantren ini, kami bertiga melakukannya dengan menggunakan aplikasi google maps sebagai petunjuk arah dan google sebagai pencari daftar pondok pesantren yang ada di Sukoharjo. Oh iya dalam pencarian pondok pesantren, kami bertiga hanya mencarinya di kota Sukoharjo saja dan Alhamdulillah dapat.
Kami mendatangi pondok pesantren Darud Da’wah, pondok pesantren ini adalah yang pertama kami kunjungi. Kami tiba disana sekitar jam setengah 12 siang, tepat sebelum waktu dzuhur. Kami bertanya-tanya kepada santri yang ada disana, tiba waktu adzan dzuhur, kami pun melaksanakan sholat dzuhur disana. Setelah sholat dzuhur, kami mencoba untuk bertanya kepada Pak Ustad yang tadi mengimami sholat dzuhur. Kami bertanya dan meminta izin apakah kami boleh untuk melakukan observasi disini atau tidak. Akan tetapi, Pak Ustad yang mengimami sholat dzuhur tadi, tidak berani mengambil keputusan untuk mengizinkan kami untuk melakukan observasi karena beliua bukan pimpinan pondok pesantren ini. Kami disuruh menemui pimpinannya langsung. Dan kamipun akhirnya menuju ke ruangan pimpinan pondok pesantren ini. Namun Kepala pondoknya sedang pergi dan kata santrinya beliau pulangnya mungkin malam nanti. Alhasil kami berbincang bincang dulu dengan Pak Ustad yang lainnya, disitu kami berkenalan dan basa basi. Karena Pemimpin pondoknya sedang pergi, kami akhirnya kami bertukar nomor telepon dan diberikan no telepon pemimpin pondok untuk membahas perizinan itu.
Pada hari berikutnya sesuai dengan permintaan Pak Ustad yang ada di pondok pesantren tadi, kami menghubungi pemimpin pondok pesantren tersebut. Namun ketika kami menghubungi pemimpin pondok pesantren tersebut tidak ada respon sedikit pun. Karena hal itu, kami pun berencana untuk mencari pondok pesantren yang lainnya saja. Karena pada hari pertama belum mendapatkan pondok pesantren yang cocok, kami pun memutuskan untuk melanjutkan pencarian pondok pesantren pada hari yang lainnya saja. Di hari berikutnya, kami menemukan pondok pesantren Imam Syuhodo di desa Wonorejo kecamatan Polokarto kabupaten Sukoharjo. Kami tiba disana sore hari sekitar jam setengah empatan, disana kami perkenalana, kemudian berbincang-bincang dan tidak lupa untuk menyampaikan maksud dan tujuan kami dating ke pondok pesantren tersebut. Alhasil kami diizinkan untuk melakukan observasi dan live in di pondok pesantren tersebut.
Di hari berikutnya tepat jam 9 pagi sesuai perjanjian, kami datang lagi ke pondok tersebut dengan membawa surat izin dan barang barang perlengkapan kami untuk live in di pondok pesantren tersebut. Surat izin diserahkan, kemudian kami memulai live in di pondok pesantren tersebut. Ketika kami sampai di pondok pesantren tersebut, para santrinya sedang sekolah, akan tetapi ada juga yang pulang awal sekitar setengah 10 sudah selesai sekolah karena sedang ada latian ujian nasional untuk kelas 3 smp dan sma.
Setelah istirahat beberapa menit, kami langsung memulai penelitian ke ruang kelas, kami mengamati proses pembelajaran di dalam kelas. Dalam melakukan pengamatan, kami meminta izin untuk memasuki ruangan kelas dan diizinkan. Ternyata pembelajarannya sama saja dengan waktu saya sekolah dulu, hanya saja lebih banyak agamanya disini. Sewaktu kami memasuki kelas yang tidak ada gurunya, kebanyakan dari siswa disana menggunakan jam kosong untuk membaca Al-Qur’an. Namun ada juga yang bermain main, ya wajar saja lah namanya juga anak manusia pasti begitu.
Setelah selesai menagamati di dalam kelas, kami balik lagi ke kamar para santri. Di dalam kamar para santri kami saling berkenalan sambil mengamati bagaimana cara bergaul mereka. Dan ternyata anak anak pondok pesantren sama saja dengan anak anak pada umumnya, mereka sama sama rame, enak diajak bicara, dan tidak minim tentang dunia luar. Bahkan malah santri di pondok sebenarnya lebih beruntung karena mereka lebih tau tentang agama dan tata karma terhadapa orang tua.
Medengar suara adzan, kami bersama-sama para santri bergegas menuju masjid di pondok pesantren tersebut untuk melaksanakan sholat dzuhur. Tiba di masjid, kami langsung berwudhu dan siap siap masuk ke masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur. Uniknya di pondok pesantren ini, setelah adzan dan sambil menunggu waktu iqomah, para santri membaca Al-qur’an dan kami pun ikut membaca Al-qur’an. Akan tetapi, hanya kebanyakan saja yang membaca Al-qur’an, ada beberapa yang hanya duduk diam untuk menunggu iqomah.
Setelah selesai sholat dzuhur, para santri di pondok pesantren ini, berdzikir sebentar kemudian mereka membaca Al-qur’an, ada yang membacanya melingkar di area masjid dan ada juga yang membacanya di dalam kamar. Al-qur-an yang dibaca adalah Al-Qur’an yang sama dengan yang sering kita baca. Tidak hanya membaca saja, kebanyakan dari merek juga menghafal Al-Qur’an, ada yang sudah bisa menghafal 10 juz da nada juga yang baru hafal 1,2 juz saja. 1 atau 20 juz itu tidak masalah, yang penting ada niat untuk menghafal Al-Qur’an, yang masalah itu yang tidak menghafal.
Kemudian sekitar dari jam setengah dua sampai azhar adalah waktunya makan dan istirahat bagi santri, kalau dilingkungan pondok pesantren sering disebut dengan waktu bebas. Di waktu ini kami hanya mengamati para santri makan, makannya mengambil di pondok da nada jatah makan sendiri dari pondok, artinya sudah ditentukan oleh pihak pondok pesantren tersebut. Kalau ngambil makanannya bebas akan tetapi yang ditentukan adalah waktu makannya bukan porsi batasan makanan. Setelah selesai makan, para santri beristirahat, ada yang tidur, ada juga yang bermain main da nada juga yang bersantai sambil menunggu dating waktu azhar.
Tiba waktu azhar, para santri bersiap siap menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat azhar. Cara santri menunggu iqomah masih sama seperti waktu dzuhur dan setiap sholat wajib juga seperti ini. Untuk yang adzan adalah para santri dan bergantian sudah dijadwal. Yang membedakan adalah kegiatan setelah sholat azhar dan sholat dzuhur berbeda sedikit, kalau setelah sholat azhar ada tambahan setoran hafalan. Proses kegiatan ini adalah ada satu ustad dikelilingi beberapa santri atau puluhan santri. Para santri menyetorkan hafalan mereka, yang dihafalkan adalah surat Al-Qur’an atau Juznya. Di dalam proses ini memakan waktu yang cukup lama hingga selesai sampai sekitar jam setengah limanan.
Setelah para santri sudah selesai hafalan semua, kami berbincang bincang dengan Bapak Ustad Fatonah, beliau adalah salah satu penerus pendiri pondok pesantren Imam Syuhodo tersebut. Banyak hal yang kami bicarakan, kalau ditulis disini mungkin tidak cukup sepuluh halaman hanya untuk menuliskan hal hal yang kami bicarakana tapi apabila dijabarkan. Kami berbincang bincang dengan Bapak Ustad Fatonah sampai menjelang waktu maghrib karena beliau ada sebuah kebiasaan membunyikan lonceng peringatan kepada para santri untuk bersiap siap sholat maghrib.
Sudah adzan maghrib dan kegiatan sebelum sholat tetap sama. Setelah sholat maghrib, kegiatan tadarus dan hafalan biasa saja karena antara waktu maghrib ke isyak sangat dekat sekali. Kemudian memasuki waktu sholat isyak, kami dan para santri berwudhu kembali dan bersiap untuk melaksanakan sholat isyak. Sambil menunggu iqomah, kami dan para santri bertadarus sebentar. Kemudian setelah sholat isyak ada banyak kegiatan antara lain, tilawah dari santri di dalam masjid, ceramah dari Bapak Ustad Fatonah di dalam masjid dan kemudian latihan pidato bagi para santri di area pondok pesantren, artinya bahwa latihan pidato tidak dilakukan didalam masjid.
Yang pertama adalah tilawah dari santri, kegiatan ini dilakukan dengan proses seorang santri maju ke mimbar untuk bertilawah, setiap hari berganti santri. Tilawah yang dibacakan juga bebas dan waktunya juga tidak lama, paling hanya sekitar lima sampai sepuluh menit saja. Diatas mimbar seorang santri bertiwalah membacakan ayat ayat Al-Qur’an dengan suara yang merdu, dan karena saya dulunya juga pernah belajar tilawah, jadi saya bisa menilai bagaimana tilawah itu bagus atau kurang baik.
Setelah tilawah selesai, kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh Bapak Ustad Fatonah. Ceramahnya tidak dilakukan diatas mimbar melainkan dengan bantuan sebuah kursi yang lain dan diletakan didepan hadapan para santri. Dalam ceramahnya waktu itu, beliau menyampaikan sebuah pidato yang sangat bermanfaat dengan tema yang sebetulnya saya sendiri kurang mengetahui tetapi mengerti sedikit sedikit tentang isinya. Yaitu menjelaskan tentang tata krama dan sikap sikap yang harus dipenuhi atau dijalani oleh para santri. Sekitar dua puluh menitan, ceramah yang disampaikan oleh Bapak Ustad Fatonah pun berakhir.
Memasuki jam delapan lebih sepuluh menit, kini saatnya para santri kembali ke kamarnya masing masing dan bersiap siap untuk berkumpul di lapangan. Para santri dikasih waktu sekitar lima sampai sepuluh menit untuk persiapan dan kemudian berkumpul di lapangan samping masjid. Dilapangan, para santri berkumpul untuk menerima sebuah pengarah untuk latihan pidota sekalian pembagian kelompok pidato. Setiap kelompok ada delapan sampai sepuluh santri, dan mereka dibagi bagi tugasnya. Kegiatan latihan pidato ini dilakukan hanya setiap malam jum’at saja. Di malam malam yang lain juga ada kegiatan kegiatan yang lainnya.
Dalam kegiatan berpidato ini dilakukan sampai jam sembilan dan setelah jam sembilan, para santri berkumpul lagi di lapangan samping masjid untuk absen malam dan persiapan untuk kegiatan besok pagi yaitu jalan sehat dari pagi sampai sebelum dzuhur. Setelah absen dan pengarahan selesai, para santri kemudian diperbolehkan untuk istirahat dan tidur malam.
Jam tiga pagi, para santri dibangunkan untuk sholat tahajud. Ada yang bangun da nada juga yang tetap tidur sampai subuh baru bangun. Menjelang waktu subuh, kini saatnya bagi pengurus pondok pesantren untuk beraksi menguprak uprak para santri yang belum bangun. Pengurus pondok tersebut adalah santri juga namun, mereka adalah kelas tiga smp dan sma. Yang sudah diuprak uprak tapi tetap belum bangun, para santri tersebut akan disiram air yang cukup dingin. Menyedihkan sekali memang. Setelah itu santri ada yang mandi da nada juga yang bersiap siap untuk ke masjid melaksanakan sholat subuh.
Setelah sholat subuh, tadarus sebentar dan kemudian para santri bersiap siap untuk berkumpul di lapangan untuk absen pagi dan persiapan kegiatan jalan pagi. Para santri dikasih waktu dua puluh menit untuk persiapan. Setelah semua santri sudah berkumpul dilapangan, pengurus santri kemudian memberikan pengarahan dan pengecekan apakah santri sudah siap untuk melaksanakan kegiatan ataukah belum. Setelah santri sudah siap semua, berangkatlah mereka keluar dari lingkungan pondok pesantren dan melakukan kegiatan jalan pagi. Mereka keluar dari lingkungan pondok sekitar jam enam pagi. Karena sudah tidak ada lagi yang dapat kami observasi dari kegiatan para santri, kami pun memutuskan untuk berpamitan. Kami pamit dan berbincang bincang dulu dengan Bapak Ustad Fatonah. Pulanglah kami kembali ke asal dan keluar dari pondok pesantren Imam Syuhodo sekitar jam setengah delapan pagi.
Itulah beberapa ringkasan singkat yang dapat saya sampaikan berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan ketika saya di pondok pesantren Imam Syohodo. Semoga bermanfaat bagi kalian semua para pembaca. Ucapan terimakasih tak lupa saya ucapkan kepada Faisal dan Tomi teman saya selama observasi, Bapak Ustad Fatonah selaku Pimpinan pondok pesantren Imam Syuhodo, para kakak kakak pengurus pondok pesantren Imam Syuhodo, adik adik santri Imam Syuhodo, dan tak lupa para pengurus pondok pesantren Imam Syuhodo yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu. Sekali lagi terimakasih.

REFLEKSI
Saya sebagai mahasiswa Perbankan Syariah IAIN Surakarta sangat terkesan dengan lingkungan di pondok pesantren. Banyak hal yang saya dapatkan, banyak hal yang bisa saya jadikan sabagai pelajaran, dan banyak hal yang bisa saya temui. Karena dibalik segala sesuatu pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya. Itulah beberapa catatan yang say dapatkan selama live in di Pondok Pesantren Imam Syuhodo, semoga catatan kecil saya ini bisa bermakna bagi kalian para pembaca. Sekian, semoga bermanfaat. Terimakasih..

Wassalamu’allaikum wr wb….          

Lampiran: