Selasa, 08 Mei 2018

MSI CAFE


Nama   : Wahyu Aji galih Muslim
Kelas   : PBS 2B
NIM    : 175231074

Feel the Atmosphere in Hikaru Dining at Hartono Mall
Berawal dari sebuah tugas mata kuliah MSI (Metodologi Studi Islam) yang di ampu oleh dosen bernama Bapak Endy Saputro. Kami para mahasiswa/mahasiswi kelas PBS 2B ditugasi untuk mengunjungi café atau resto yang ada di Solo dan Sukoharjo, pilih salah satu café atau resto. Sebetulnya bukan memilih, akan tetapi di undi, ada 16 gulungan kertas kecil yang didalamnya ada tulisan nama café atau resto yang ada di Sukoharjo dan Solo. Kelas kami yaitu PBS 2B dibagi menjadi 12 kelompok dan setiap kelompok beranggotakan 3 orang jadi jumlah semua mahasiswa/mahasiswi kelas PBS 2B yaitu 36 orang. Ketika undian, setiap kelompok maju kedepan untuk mengambil gulungan kertas tersebut dan kebetulan saya perwakilan dari kelompok saya untuk mengambil gulungan kertas tersebut. Kelompok saya terdiri dari saya, Tomi dan Faisal Kelompok saya dapat gulungan kertas yang didalamnya bertuliskan Hikaru Dining. Jadi, kelompok saya dapat tugasnya untuk berkunjung, mengamati dan merasakan  produk yang ada di Hikaru Dining serta meneliti kondisi dan suasana café tersebut bagaimana hubungannya dengan Islam.
Tepat tanggal 02 Mei 2018 sekitar jam dua belas siang, kami bertiga berangkat ke Hikaru Dining Hartono Mall yang ada di Kota Sukoharjo. Kami bertiga kesana naik motor, saya boncengan sama Faisal dan Tomi naik motor sendiri. Kami berangkat dari kampus dan itu setelah mata kuliah Akhlaq dan Tasawuf selesai. Perjalanan dari kampus ke Hikaru Dining hartono Mall sekitar setengah jam atau 30 menit. Waktu itu, kami berangkat jam dua belas siang dan suhunya sangat panas, apalagi jalanan cukup macet sehingga membuat saya merasa kurang nyaman di jalan. Akan tetapi, setelah sampai di Hartono Mall, suasana hati saya seketika itu langsung berubah dan saya sudah merasa cukup lega karena sudah melewati perjalanan yang kurang menyenangkan. Sebelum tiba di Hartono Mall, kami bertiga juga melewati beberapa gedung perusahaan yaitu Transmart, Grand Mall dan masih banyak lagi yang lainnya.
Setelah sampai di Hartono Mall, kami bertiga langsung menuju keparkiran yang ada di lantai bawah gedung hartono Mall. Motor sudah diparkirkan dan kemudian kami langsung menuju ke atas untuk mencari Hikaru Dining. Sebelumnya saya belum pernah ke café ini, maka dari itu kami bertiga mencari dulu. Akan tetapi, untuk mencari café Hikaru Dining tidaklah sulit karena tempatnya yang sangat strategis. Kami menemukan café tersebut di lantai dua. Setelah menemukan café tersebut, kami langsung masuk ke dalam café tersebut. Hikaru dining adalah café yang terkenal dengan makanannya yang berasal dari Asia terutama Jepang. Baru mendengar namanya saja kita sudah bisa tahu kalau Hikaru Dining adalah kata yang identic dengan Negara Jepang.
Setelah masuk, kami langsung duduk dan kemudian ada seorang pelayang cewek yang datang menghampiri kami dan memberikan daftar menu makanan dan minumannya. Setelah lama kami melihat daftar menu makannya, kami pun langsung memesan. Makanan yang saya pesan adalah chiken katsu bento dan soda root beer. Saya adalah seorang yang dari dulu sangat suka minum soda, jadi kemanapun saya pergi ke tempat yang terlihat mewah, kemungkinan minuman yang saya pesan adalah minuman yang mengandung soda. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pesanan kami sudah jadi dan siap untuk di makan. Kami pun menikmati hidangan sambil mengamati café tersebut, bagaimana suasananya dan semua yang ada di café tersebut bagaimana hubungannya dengan Islam.
Semua jenis makanan yang ada di café tersebut kelihatannya halal. Akan tetapi itu hanya menurut dari makanan yang saya pesan. Karena saya memesan chiken jadi saya bisa mengatakan kalau itu halal. Kemudian untuk para pelayannya, sepengetahuan saya ada 4 wanita yang bertugas di bagian depan. Saya kira bahwa pada saat itu adalah pergantian shift, karena biasanya pelayan bagian depan hanya 2 orang saja. Untuk penampilanan para pelayannya, saya akui memang sangat menarik akan tetapi sangat jelek menurut pandangan Islam karena mereka tidak berhijab dan mereka memakai rok yang panjangnya tidak samapai ke lutut sehingga sangat terlihat jelas aurat pada bagian paha. Dan menurut Islam itu sangat tidak diperbolehkan. Mereka memang ramah dalam melayani pelanggan, akan tetapi tidak sopan dalam agama Islam.
Cukup lama kami disitu sambil menikmati hidangan dan mengamati hal hal apa saja yang ada di café tersebut yang bisa diamati. Susananya memang sangat sejuk dan sangat nyaman apabila dijadikan sebagai tempat untuk mengerjakan tugas, rapat, ataupun bisa juga dijadikan sebagai tempat untuk pertemuan seperti pertemuan keluarga dan saudara. Akan tetapi, memang kurang pas apabila untuk acara keluarga seperti arisan karena menu nya yang harganya cukup mahal.
Pada waktu itu, saya merasa kaget setelah melihat nota atau bill karena harganya yang tidak sesuai dengan makanan yang saya pesan yang ada di daftar menu. Ketika itu di daftar menu dituliskan bahwa harga chicken katsu bento yang saya pesan itu tertulis seharga 28k atau sama dengan dua puluh delapan ribu rupiah. Akan tetapi, setelah selesai makan dan saat pembayaran, di nota harga chicken katsu bento tidak 28k melainkan 42k atau sama dengan empat puluh dua ribu rupiah. Disitu kemudian saya merasa sangat kecewa. Tapi tidak apalah, saya juga tidak protes atau bertanya mengapa bisa demikian. Karena kata teman saya, jenis chicken katsu bento juga tidak hanya satu, mungkin memang iya ada yang harganya 28k akan tetapi pelayannya membuatkan yang harga 42k sedangkan saya memesan yang 28k.
Setelah cukup lama kami makan dan mengamati café tersebut, kami bertiga pun bersiap-siap untuk pulang ke tempat tinggal kami masing-masing. Mereka, Faisal dan Tomi mungkin pulang dengan rasa kegembiraan sedangkan saya pulang dengan rasa sedikit sedih dan sangat kecewa karena pesanan yang salah tadi. Biasanya, jika di warung yang normal seperti mie ayam, bakso ataupun nasi sayur, saya protes jika ada makanan yang salah. Akan tetapi, tidak tahu kenapa pada kunjungan di café kemarin saya tidak protes karena makanan yang salah pesan. Kami bertiga pulang dari Hikaru Dining sekitar pukul tiga sore dan pada saat itu cuacanya sangat cerah, tidak hujan dan tidak panas sekali.
Pengalaman saya setelah menikmati hidangan di Hikari Dining adalah biasa biasa saja tetapi sangat menguras dompet. Makanannya rasanya biasa saja dan bahkan malah tidak lebih enak dari warung makan biasa seperti warung makan sambel layah ataupun warung makan ayam geprek. Karena dulu saya pernah bekerja di kedua warung makan tersebut dan jika dilihat dari rasa dan tampilannya, makanan makanan yang ada di warung makan sambel layah dan ayam geprek justru malah jauh lebih enak daripada yang ada di Hikaru Dining. Hanya saja, memang terlihat lebih bersih dan nyaman jika kita makan di Hikaru Dining. Karena letak Bangunan Hikaru Dining juga berada di dalam Mall dan memang sudah di desain untuk mayoritas orang yang memiliki uang lebih sehingga tidak heran jika harganya terkesan mahal. Tetapi itu hanya pendapat saya saja.
Kemudian untuk fenomena fenomena menurut nilai nilai Islam yang telah terjadi dan telah saya observasi di café tersebut selama saya menikmati hidangan di situ adalah pelayannya kurang sopan karena berpakainan tidak menutup aurat dan itu dilarang dalam hal agama. Menurut saya sebenarnya wajar saja jika pelayannya berpenampilan seperti itu karena memang café ini juga dari Jepang. Akan tetapi menurut aturan agama Islam tetap saja tidak diperbolehkan.
Namun yang cukup saya saluti adalah di café tersebut tidak ada orang berpacaran atau mesra-mesraan seperti layaknya café-café di kota besar di Indonesia. Mungkin memang karena pas jam siang, kalau malam jika kita masih mau melakukan observasi lagi, kemungkinan bisa saja ada orang yang mesra mesraan. Pada saat itu selama kami bertiga di café tersebut, hanya ada satu orang wanita di sebelah kami dan dua orang wanita di tempat duduk yang cukup jauh dari kami bertiga. Dan mereka pun kelihatannya santai sekali dan sangat menikmati suasana di café tersebut. Sebelum satu wanita disebelah kami, sebelumnya kursi itu ditempati oleh seorang bapak, jika melihat dari tampilannya, beliau adalah seorang pengusaha kaya yang sedang merasa bosan sehingga berkunjung di sebuah café untuk bersantai karena mungkin setelah lelah memikirkan pekerjaan.
Sebetulnya jika café-café tersebut kebanyakan mayoritas pelanggannya adalah bukan orang-orang Muslim melainkan banyak dari golongan non Muslim terutama orang-orang beragama Kristen Khatolik. Jika dikaitkan dengan mata kuliah Metodologi Studi Islam, awalnya saya pikir bahwa tidak ada kaitannya sama sekali dengan mata kuliah tersebut. Akan tetapi, setelah dilakukan observasi ke café-café semacam itu, justru malah erat kaitannya dengan mata kuliah Metodologi Studi Islam karena banyaknya hal hal yang bisa di teliti dan telaah erat kaitannya dengan aturan-aturan Agama Islam dan hal-hal yang menyimpang dengan ajaran agama Islam yang ada di café tersebut. Maka dari itu, kita terutama diri saya sendiri tidak boleh berpikiran sempit dan harus berpikir luas sebelum memberikan penilaian terhadap hal apapun itu, agar kita menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam segala hal.
Kesimpulannya adalah memakan makanan yang ada di café-café mewah memang sangat mengurs dompet, apalagi bagi orang yang kekayaannya bisa dikatakan menengah kebawah, saya sarankan untuk makan di warung biasa saja atau lebih baik memasak di rumah sendiri. Sesekali boleh mencicip masakan di café-café mewah tapi jangan sampai keterusan. Kemudian pandangan saya mengenai nilai-nilai keislaman di café tersebut hanyalah terletak pada makanannya yang halal saja. Demikian lah yang dapat saya tuliskan berdasarkan data dan pemahaman saya setelah melakukan kunjungan di Hikaru Dining kemarin. Sekian dan terimakasih.

Lampiran